Masalah Hati : Fiksi atau Non Fiksi

Kata orang, jatuh cinta dan patah hati itu beda-beda tipis. Yang pertama penuh euforia kebahagiaan dan kedua diselubungi euforia kesedihan. Terus kalau boleh milih, mana yang akan Anda pilih? Karena pada dasarnya, euforia itu tidak punya definisi keabadian. Sifatnya sesaat, kaya buih-buih minuman soda. Begitu karbonatnya menguap ke udara, ya udah abis begitu aja…Tapi apa iya cerita hati itu sejenis asam karbonat yang cepat menguap ke udara?

Kalau gitu, kapan kita bisa percaya bahwa apa yang dirasakan hati adalah kenyataan bukan fiksi romansa? Tapi perasaan selama ini kita sering banget mendengar orang berbicara, “Jangan ragukan kata hati” atau “Jangan pernah melupakan kata hati, karena itu kejujuran hakiki”. Trus kalau kata hati terbuat dari asam karbonat yang tercampur akibat keinginan dan harapan, lalu bagaimana kita menemukan kata hati yang bener-bener kata hati…Ayo gimana ayo…

Advertisements

Pendidikan Seks Bukan Hanya Untuk Anak-Anak

Okeh saya harus menulis, karena kalau tidak saya bisa didera trauma sampai besok pagi. Atau kalau mau lebay, trauma itu bisa saya bawa dalam mimpi…

Jadi hari ini saya meliput acara mengenai bagaimana orang tua memberikan pendidikan seks atau sex education kepada anak-anaknya. Salah satu pembicara, Sani B Hermawan, bercerita bahwa kliniknya beberapa kali didatangi kasus pelecehan terhadap anak. Diantara beberapa cerita yang disampaikan psikolog smiling face itu adalah mengenai anak perempuan yang dilecehkan oleh supirnya sendiri.

Anak itu masih duduk di bangku SD, umurnya sekitar 7 tahun. Ibunya kaget pas denger anaknya cerita kalau pipis sakit. Pas dilihat ternyata kelamin anaknya sudah lecet. Akhirnya, ibunya membawa ke dokter. Dan hasilnya, anaknya sudah pernah mengalami pendarahan alias selaput darahnya sudah rusak. Untuk membuat anak tak merasa tertekan bercerita bagaimana semuanya terjadi, sang anak dibawa ke psikolog. Sang anak pun bercerita, kalau supirnya sering memasukkan tangan kirinya ke vaginanya. “Jadi tangan kanannya memegang stir, tangan kirinya menyentuh alat kelamin anak itu,” Sani memberi gambaran.

Saya menutup mata dan telinga, sambil berkata, “Oh My God.” Saya gemetaran, saya merinding, dan saya coba membayangkan bagaimana anak itu bercerita. Dia pasti ketakutan dan yang pasti kesakitan!

Lalu Sani menceritakan pengalaman anak yang lain. Kali ini laki-laki, masih duduk di SD juga. Dia mendapat guru les bahasa inggris privat. Ngga tanggung-tanggung, gurunya lulusan S2 dari luar negeri.

Satu hari, pas ayah anak itu memandikan anaknya, si anak merasa kesakitan. “Ayah jangan digosok bagian belakangnya, sakit,” ucap anak itu sambil menunjuk bagian pantat. Yah bisa dibayangkanlah apa yang terjadi, anusnya lecet. Dan anak itu bercerita adalah sang guru les yang melakukan sodomi terhadap dirinya.

Ngga cuman itu, sang guru bahkan memiliki cara unik untuk menghukum anaknya setiap kali tidak bisa menjawab soal. Anak itu disuruh melepaskan baju dan ditelanjangi. Mungkin kita bertanya, “Emang orang rumahnya kaga ada yang liat apa?” Jadi ternyata, sang guru memberi alasan, kamar belajarnya harus dikunci setiap kali les. Karena anaknya suka lari sana-sini, jadi biar mudah dikendalikan ya dikunci saja kamarnya. Ya anak itu memang mudah dikendalikan. Bahkan dikendalikan dengan tidak manusiawi.

Entah ada apa dengan hari ini. Rasanya info di liputan tadi siang tak cukup buat saya. Karena tanpa sengaja, saya menyaksikan laporan khusus di salah satu stasiun televisi yang mengungkap mengenai kehidupan seksualitas anak-anak jalanan. Iya anak-anak jalanan juga jadi korban. Bahkan ada anak yang masih berumur 9-10 tahunan bercerita, kalau dia minum pil KB biar tidak hamil. Oh Tuhan, hari apa ini ya? Saya sampai tidak bisa tidur karena terlalu shock menerima semua info itu.

Jika berbicara mengenai pelecehan seksual, saya selalu percaya kita harus memiliki keberanian untuk melawan. Tapi tidak semua situasi menawarkan keberanian yang sama. Anak-anak kecil misalnya, mereka bukannya tidak berani tapi tidak mengerti. Dan pendidikan seks itu adalah modal dia untuk mengerti bahwa alat kelaminnya bukan jadi komoditas kepuasan orang lain.

Tapi tidak semua orang setuju dengan pendidikan seks. Sebab banyak yang mengartikan pendidikan seks adalah memberi tahu mengenai bagaimana berhubungan seks. Padahal sebenarnya pendidikan seks adalah proses pembelajaran akan jenis kelamin. Ya karena secara arti kata, seks adalah jenis kelamin.

Ketika kita mengenal kelamin kita, maka kita akan mengenal tubuh kita, plus kita akan mengenal diri kita. Jadi kalau mau bicara mengenai pengenalan diri, menurut saya, harusnya mulai dari mengenali kelamin kita. Pengenalan kelamin akan membuat kita melindungi kelamin. Karena proses pengenalan akan menciptakan keterikatan emosi, ada pembentukan psikologi kepemilikan di dalamnya. Walhasil kita menjadi perlu melindungi kelamin, melindungi tubuh, serta melindungi diri.

Jadi sebenarnya pendidikan seks, bukan hanya proses setahun atau dua tahun tapi seumur hidup. Ini juga yang disampaikan Sani. Saat kita dewasa dan berumah tangga, pendidikan seks akan menjadi modal untuk membuat kita setia terhadap pasangan. Karena sebenarnya pendidikan seks akan membuat kita sadar bahwa pengendalian diri itu adalah wujud pelindungan diri.

Makanya kalau ada orang yang bilang pendidikan seks itu justru akan membuat anak-anak penasaran akan seks sebenarnya, harusnya ditanya balik, emangnya kasih pendidikan seksnya gimana? Judunya aja udah pendidikan, bukan pengajaran. Artinya tujuan pendidikan adalah menciptakan karakter, sedangkan pengajaran bersifat menciptakan skill.

Jadi, ayolah mulai membuka diri terhadap pendidikan seks. Setidaknya ketika orang dewasanya cukup percaya diri untuk memahami pendidikan seks maka anak-anak akan lebih jelas memahami pendidikan seks. Karena suka atau tidak, tempat belajar anak-anak pertama kali adalah orang-orang dewasa di sekitarnya. Jadi siapa bilang jadi orang dewasa mudah dan menyenangkan? Tanggung jawabnya banyak tau!

Mudah-mudahan setelah nulis ini jadi bisa tidur

Keyword Search Engine vs Negara Religius

Beberapa bulan lalu, saya diminta kantor untuk hadir dalam seminar mengenai prospek bisnis digital. Kantor saya menghadirkan seorang pakar bisnis digital media, Andi Syarif. Beliau adalah anak dari dokter anak yang sangat bersemangat mengampanyekan inisiasi menyusui dini dan asi eksklusif, dr.Oetami Roesli, Sp.An.

Jadi Andi Syarif ini mengawali pemaparannya mengenai potensi bisnis digital dan bagaimana pengiklan bisa dengan spesifik memilih di website atau blog mana saja iklan-iklan mereka terpasang tepat sasaran. Andi Syarif bersama timnya membuat SITTI, semacam sistem penganalisa artikel dan kemudian menyimpulkan apa yang dibicarakan pada artikel tersebut serta iklan apa yang cocok.

Sebenarnya saya tidak ingin membahas SITTI, itu hanya pengantar. Sebab kredibilitas Andi Syarif akan sangat mempengaruhi fakta yang akan saya angkat.

Jadi begini, Andi Syarif juga memaparkan, tingginya pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Bahkan Indonesia, bisa dibilang sebagai ‘ibukota’ pengguna Facebook, karena angkanya terus merambat. Secara kasar bisa disimpulkan, orang Indonesia ini sudah sangat kecanduan internet dan segala macam aktivitas di dunia maya.

Lalu Andi Syarif bercerita lagi, bahwa ada hal yang unik dari habitual ini dengan status negara religius yang kita sandang. Andi bersama timnya, iseng mencari tahu kata apa yang paling sering dicari orang Indonesia di mesin google search? Berani menebak? Coba saja…

BUGIL..Iya kata ‘BUGIL’ adalah yang paling sering di ketik pada kolom pencari ‘paman’ Google. Tidak sampai di sana, Andi, lagi-lagi bersama timnya, kemudian melihat seberapa banyak orang mengetik kata ISLAM pada kolom pencari google. HASILNYA? Kata BUGIL, masih lebih menjadi favorit. Bahkan ketika ditampilkan kedua kata secara bersamaan, jaraknya jauh sekali. Ibaratnya, kata islam, tak akan pernah sukses mendahului kata bugil. Jangankan mendahului, mendekati saja butuh berjuta-juta tenaga kekuatan kuda.

Masih belum puas mengangetkan pengunjung seminar, Andi kemudian bercerita bahwa kata Islam akan banyak diketika pada bulan puasa dan lebaran. Artinya, kalaupun traffic-nya naik, kata Islam hanya akan diingat ketika puasa serta lebaran. Tak seperti kata bugil yang senantiasa diketik oleh orang-orang, tak perlu momen dan aura khusus, setiap detik akan ada selalu yang meminta paman google mengumpulkan berbagai link yang mengarah pada kata bugil.

Saat mendengar pemaparan Andi, semua peserta seminar ketawa. Ketawa geli bahkan, ya saya termasuk di dalamnya. Tapi di dalam hati saya jadi penasaran, siapa saja yang mengetik kata bugil tersebut.

Tak lama berselang, kasus video artis berhubungan intim (bingung mau nyebutnya apa, video porno atau mesum, terdengar sangat menghakimi sekali) pun tersebar. Orang kemudian rame membicarakannya, saya bahkan ingat, Twitter sampai harus over capacity karena arus pergantian status yang membicarakan video itu sangat cepat. Dan secara tiba-tiba orang merasa punya kewajiban untuk menghakimi.

Saya selalu mencoba untuk tak berkomentar setiap kali isu itu naik ke permukaan. Bahkan saya ingat, dalam satu hari 3 kali bertemu dengan orang-orang pada acara dan lokasi yang berbeda-beda, tapi tetap isu yang hangat dibicarakan adalah video tersebut. Bahkan sampai supir taksi pun mengangkatnya sebagai pembicaraan ringan bersama penumpang.

Kita memang sangat doyan dengan isu-isu seksualitas. Sama seperti kita doyan mendeklarasikan bahwa agama adalah nafas kehidupan masyarakat kita. Tapi pada kenyataanya, secara statistik (setidaknya statistik google analytics berbicara demikian dan ini yang tercatat secara sistem) isu agama tidak pernah seseksi isu seks. Agama justru menunjukkan taringnya ketika isu seks muncul dengan iming-iming meresahkan masyarakat. Jadi hanya bersifat peredam.

Ibarat peredam dalam pistol, agama dipakai untuk membuat orang lumpuh atau diam tapi tanpa suara, tanpa jejak, yang penting diam. Karena kita percaya, ketika membawa ayat-ayat agama atau bahkan berujar,”Menurut agama,” sudah cukup sakti untuk memilah mana yang benar dan salah. Ringkasnya, agama hanya sebagai pemanis dari penghakiman kita terhadap satu hal atau seseorang.

Sebenarnya kasus video itu juga menunjukkan, betapa kita sangat suka seksualitas. Hanya saja butuh pembenaran untuk bisa menyaksikannya. Ketika orang mulai ramai membicarakannya, semua orang menjadi tak risih untuk melihatnya. Karena semua orang melihatnya, jadi batasan tabu dibuat garis putus-putus. Dan garis putus-putus itu dibuat agar kita punya perangkat untuk mengatakan apakah seks yang dilakukan dalam video itu benar atau tidak. Bahasa singkatnya, kita perlu menyaksikan video dan membicarakan itu agar bisa menegakkan status religius yang kita punya.

Jadi tak apa untuk menjual video tersebut melalui bluetooth, hanya seribu rupiah. Tak peduli siapa yang minta mendownload, selama ada uang, diberikan saja. Lalu apakah religius namanya kalau kita merasa perlu mencari nafkah dari kenistaan orang lain? Apakah menegakkan kebenaran agama namanya kalau kita merasa lega mencaci maki orang dalam video tersebut setelah ikut menyebarluaskan videonya? Sepertinya kita hanya butuh punya alasan untuk memainkan peranan Tuhan. Khususnya peranan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar, dengan begitu kita merasa telah menegakkan nilai agama dan mengokohkan status negara religius.

Dan yang selalu membuat saya gerah mengenai hal-hal seperti ini. Kita selalu luput untuk memosisikan pengedar dalam kasus video hubungan intim orang dewasa. Apalagi kalau pengedarannya sudah dilakukan secara massal. Tapi bukankah ini juga harusnya membuat kita menjadi risih, kok kita diam saja orang mencari keuntungan dari tindakan itu. Kalau memang takut video-video itu jatuh ke tangan anak-anak, ya seharusnya pengedar-pengedar yang hanya mikirin perut itu ditangkap dan ditatar secara agama. Toh kita cinta sekali dengan agama kita.

Ah kadang-kadang kita memang terlalu menyerderhanakan agama. Kita percaya dengan simbol agama yang jelas maka kita dapat mengerti di ordinat mana keimanan kita berada. Kalau memang begitu, saya memilih berada di luar ordinat saja dan mulai rajin-rajin mengetik kata religius pada mesin pencari google 😀

Everybody’s Fine

Jumat (28/5) kemarin saya memutuskan untuk menonton film setelah hampir seharian tak berhasil mengumpulkan wangsit untuk menulis artikel pekerjaan. Saya mencari dalam rak koleksi DVD-DVD abang saya yang tersusun sangat rapih. Kalau berbicara mengenai selera film, terus terang saya tak suka yang berbau futuristik, peperangan, atau yang berantem-berantem. Terlalu lelah menonton film-film jenis itu.

Itu mengapa saya lebih mencari film-film ber-genre drama atau komedi romantis. Karena yang saya harapkan dari aktivitas menonton film adalah mendapatkan pemikiran baru plus dapat tertawa. Dan malam kemarin saya berjodoh dengan film bertajuk Everybody’s Fine.

Film ini diperankan oleh Robert de Niro, aktor kawakan yang bisa bermain genre film apa saja. Kualitas aktingnya ngga perlu diperjelas lagi dalam tulisan ini.

Dalam film ini, de Niro berperan sebagai seorang ayah yang memiliki 4 anak, 2 perempuan dan 2 laki-laki. Dia adalah ayah yang bekerja sebagai pembungkus kabel telepon dengan PVC (Poly Vinyl Chloride) agar tidak rusak oleh perubahan cuaca. Bekerja gila-gilaan demi mengantarkan anak-anaknya ke pintu kesuksesan. Karena terlalu sering bersentuhan dengan PVC, paru-paru de Niro yang berperan sebagai Frank Doode menjadi sangat rusak. Alhasil masa pensiunnya tergantung pada obat-obatan.

Tapi film ini tak bercerita mengenai perjuangan dia dengan paru-paru yang nge-pas, melainkan bagaimana niat baiknya untuk bisa akrab dengan anak-anaknya menghasilkan begitu banyak keterkejutan. Jadi setelah isterinya meninggal, Frank merasa punya tanggung jawab untuk kembali menyatukan anak-anaknya di meja makan pada hari-hari libur besar. Alhasil saat momen itu tiba, dia menyiapkan semuanya dengan sempurna tapi anak-anaknya malah membatalkan pertemuan itu dengan berbagai agenda kesibukannya masing-masing.

Apa yang dilakukan Frank? Dia memutuskan mengunjungi anaknya satu per satu, hanya sekadar untuk memberikan undangan berkumpul di rumahnya pas natal nanti. Tapi ide jalan-jalan impulsif ini justru menampilkan realitas yang lain. Realitas itu adalah, selama ini anak-anak dan isterinya menutupi banyak hal dari dirinya.

Mulai dari anaknya yang dikiranya konduktor satu orkestra ternyata hanya seorang pemain perkusi, anaknya yang dikiranya penari terkenal di Las Vegas ternyata hanya seorang pramusaji toko, anaknya yang sukses punya firma periklanan dengan rumah tangga yang bahagia ternyata sedang pisah ranjang dengan suami karena wanita ketiga, hingga anaknya yang pelukis terkenal ternyata hanya pelukis biasa yang pada akhirnya diketahui mati di Mexico karena overdosis.

Uniknya film ini adalah, setiap kali melintasi kabel telepon selama perjalanan dia menemui anak-anaknya, sutradara akan menampilkan interkasi anak-anaknya di telepon. Bagaimana mereka mencoba mengatur strategi agar ayahnya tak perlu tau masalah atau kegagalan apa yang tengah dihadapi. Dan ada satu ucapan Frank yang bagus ketika berbincang-bincang dengan salah satu penumpang kereta, “Butuh 50 ribu kaki kabel telepon agar saya bisa menghubungi anak-anak saya di tempat tinggal mereka. Dan 50 ribu kaki kabel itulah yang membuat mereka menjadi sukses seperti sekarang, karena kerja keras saya yang tak pernah berhenti.”

Kata-kata yang bagus untuk menunjukkan betapa orangtua berjuang cukup keras untuk memperbaiki jalan hidup anak-anaknya. Namun tak selamanya keinginan dan perjuangan keras kita berakhir dengan kesuksesan. Karena di film ini anak-anak Frank ngga tega untuk bilang yang sejujurnya tentang kehidupan meraka. Bahwa mereka tak bisa memenuhi definisi sukses ayahnya dan mereka juga melakukan begitu banyak kegagalan yang membuat mereka (mungkin) menjadi anak yang tak baik. Tapi semua proses itu mereka jalanin dengan sadar hingga apapun posisi mereka sekarang, mereka bahagia karena mereka memilihnya.

Hanya saja capaian dan definisi kebahagian anak tidak sesuai dengan harapan dan wejangan sang ayah, alhasil mereka memilih untuk HANYA MENCERITAKAN YANG BAIK-BAIK saja kepada Frank. Saya langsung teringat dengan istilah berbohong demi kebaikan adalah dibenarkan. Dan film ini menampilkannya dengan sangat pas tanpa niat menggurui. Bahwa pada level tertentu mensiasati situasi untuk orang yang sudah bekerja keras demi kita adalah pilihan yang bisa diterima. Tapi pada titik moral tertentu, berbohong demi kebaikan bukanlah nilai utuh kebaikan itu sendiri. Sebab kebaikan bukan sekadar membungkus semuanya menjadi manis dan membuat orang lain senang atas apa yang kita lakukan. Melainkan menjadi terbuka atas setiap tindak kejujuran yang kita berikan.

Hal lain yang juga menarik dari film ini, setiap kali Frank bertemu anaknya, dia akan melihat sosok anaknya ketika masih kecil. Berlari dengan lugu menghampirinya, Frank terbuai dengan pikiran bahwa mereka masih anak-anak dan akan selalu menuruti apa yang diminta. Dan uniknya lagi, sebenarnya Frank sudah mengetahui dari awal kalau anak-anaknya membohongi dia, tapi dia tidak langsung marah. Dia menyimpannya dalam-dalam sambil berpikir dirinya terlalu keras untuk menuntut anak-anaknya memenuhi definisi sukses serta bahagia yang dia punya.

Dia akhirnya menyadari bahwa ketika anak menjadi dewasa, mereka adalah individu utuh yang punya ordinat kebahagiaanya sendiri. Dan di titik mana ordinat itu diletakkan, semuanya adalah kebebasan individu yang tak harus berarsiran dengan harapan individu yang lain.

Filmnya bagus dan pesan yang dibawa juga sangat kuat. Menjadi orangtua memang tak mudah tapi bukan berarti menjadi anak sama dengan bebas dari beban. Bener-bener ngajak merenung nih film ;D

Menggugat Rokok

Bulan lalu, saya merasa gerah dengan iklan yang mengatasnamakan petani tembakau. Mereka bilang, memasukkan rokok sebagai zat adiktif dalam undang-undang kesehatan akan mengancam hajat hidup petani tembakau. Seolah-olah tanah kita cuman bisa ditanamin tembakau.

Sebagai orang yang anti tembakau, of course saya keberatan. Karena tanah kita ngga cuman bisa ditanamin tembakau. Sayur dan buah misalnya, sepertinya semua orang makan nih makanan deh. Dan ngga ada efek merugikan dari orang yang tidak mengonsumsi makanan ini, ketika ada orang lain yang mengunyah di sekitarnya. Ngga kaya rokok, yang memilih untuk hidup sehat bisa jadi penyakitan gara-gara asap rokok yang disembul ke udara.

Itu kenapa saya percaya, iklan itu hanya dibuat untuk menguntungkan pengusahanya aja. Nama petani kemudian “dijual” untuk menciptakan kesan bahwa tidak ada jalan lain selain menanam tembakau.

Saya juga cukup senang ketika Muhammadyah memberikan fatwa haram atas rokok. Di Indonesia, fatwa jadi penting karena menjalani apa yang disarankan alim ulama adalah penting bagi masyarakat yang sila pertama di Pancasilanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ya alim ulama kan katanya pengejewantahan pesan-pesan Tuhan. Ya sudahlah, wong fatwanya benar kita harus mengamini dong 😀

Mudah-mudahan dengan fatwa ini, orang jadi ngerti untuk lebih mendahulukan kesehatan keluarganya ketimbang beli berbungkus-bungkus rokok. Saya pernah menghadiri acara yang dilakukan BKKBN. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional itu bilang, banyak masyarakat miskin merasa tidak sanggup untuk memberikan vaksin pada anak-anaknya karena ngga punya uang. Tapi faktanya, kepala keluarga masih sanggup untuk beli 1-2 bungkus rokok setiap hari.

Kalau mau main sinis-sinisan, 1 bungkus rokok itu kita pukul rata aja jadi Rp 5.000 dan sehari bisa Rp 5.000-10.000 uang dikeluarkan hanya untuk mengepulkan racun-racun rokok ke udara. Padahal pendapatan mereka mungkin hanya dikisaran Rp 30.000 per hari. Jadi sebenarnya kalau mau jujur, pengusaha rokok yang gedungnya mentereng di bilangan Soedirman itu dibiayai dari pembeli rokok yang pendapatannya ngga bagus-bagus amat.

Mungkin ada yang protes dengan bilang, pabrik rokok yang berhasil menyantolkan nama pemiliknya sebagai salah satu orang terkaya di dunia ini, berhasil menyerap tenaga kerja yang banyak di pabrik rokok mereka. Tapi apa iya, kualitas kehidupan buruh rokok lebih baik dari bos-bosnya? Ini masih debateable juga kan.

Kalau lahan tembakau diubah jadi agrobisnis yang mapan, saya percaya, petaninya bisa lebih sehat karena tidak harus menggulung tembakau yang bisa meninggalkan racun di jari jemari mereka. Dan kembali semua masyarakat bisa lebih akrab dengan sayur dan buah ketimbang rokok. Artinya kualitas hidup secara standar kesehatan akan terpenuhi. Jadi masih mau cari alasan untuk bilang kalau rokok itu melibatkan hajat hidup orang banyak?

Stagnasi

The image was taken from Angelaelizabethmoore.blogspot.com

Hari ini libur, tapi saya masih harus bekerja. Saya mencintai pekerjaan saya. Saya menggilai pekerjaan saya. Menulis itu ada di dalam darah saya. Tapi kali ini saya ingin mencari level menulis yang lain. Menulis yang tidak hanya memuaskan traffic atau advertising. Saya butuh kepuasan diri. Dan stagnasi ini membuat saya seperti robot dengan rutinitas yang sudah diprogram. Ah stagnasi memang proses pembodohan. Cara untuk keluar dari pembodohan adalah dengan melawan dan saya ingin MELAWAN!!!!

Saya harus memberi makan eksistensi diri saya. Ah benar-benar butuh menyelamatkan diri nih…Kemana perginya kekuatan alam yang mendorong kita saat perjalanan menuju legenda pribadi?

Bisa Berenang Itu Resolusi Saya!

Maklum tahun baru, jadi setiap kali ketemu teman pasti yang ditanya, “Resolusi lo apa?”

Beberapa teman saya menjawab dengan sistematis. Mulai dari resolusi status seperti menikah, karakter yang ingin menjadi orang yang lebih baik, sampai dapat beasiswa. Sedangkan saya, hanya menjawab, “Pengen bisa berenang biar bisa nyelam di wakatobi dan menghabiskan minimal 12 buku sepanjang 2010!”

Hahahahaha…iya sederhana banget. Karena jujur saya tidak terbisa membuat resolusi yang serius-serius. Kalau pun saya buat, itu biasanya seminggu sebelum ulang tahun dan biasanya hanya 1 atau 2 target. Karena saya lebih suka menyebutnya tema usia kesekian. Saya memilih satu kata atau merangkai satu kalimat untuk dijadikan jargon dalam menjalani pertambahan usia itu. Tidak pernah sampai detail, karena saya termasuk orang yang cinta dengan semangat let it flow.

Dan entah kenapa, saya ingin membuat sesuatu yang detail tahun ini walaupun hanya dua. Tapi saya percaya resolusi tidak berhenti dibuat di awal tahun. Pada perjalanannya saat kita dapat ide untuk mengejar sesuatu, kayanya sah-sah aja untuk menambahkan list itu. Walaupun kemudian ujung-ujungnya let it flow juga.

Tapi ya mendengar beberapa teman punya resolusi yang unik-unik dengan capaian yang besar. Saya tergoda juga tapi pas saya tanya diri saya, jawabannya, “Ah udahlah itu ngga begitu penting.” Buat saya resolusi bisa berenang dan menyelam di Wakatobi itu resolusi besar karena saya ini ternyata fobia air.

Jadi saya pernah diceburin atau dilelepin lebih tepatnya, oleh dua saudara laki-laki saya. Padahal kolam itu ngga dalam, hanya sedada saya. Artinya saya menapakkan kaki di dasar kolam pun tetap bisa membuat saya bernapas. Tapi ntah kenapa saya menangis sesenggukan dan saat keluar dari kolam saya gemetaran.

Saya shock, bukan karena hanya dilelepin tapi juga karena saya baru mengetahui ternyata saya sebegitu fobianya terhadap luapan air. Dan setiap kali saya menonton film atau berada di atas pesawat, kadang-kadang pikiran horor suka melintas. Pikiran horor itu adalah apa yang akan saya lakukan kalau saya terpaksa terjun dan mengapung di lautan bebas. Bulu kuduk saya langsung berdiri…damn saya ngga bisa berenang. Bahkan ketika saya membayangkan menggunakan pelampung di atas lautan, tetap saja saya menggelengkan kepala dengan kencang pertanda tidak mau mengalami pikiran horor itu.

Jadi ketika saya berani mendeklarasikan ingin belajar berenang bahkan menyelam di Wakatobi, itu MIMPI BESAR! Dan saya selalu tertantang dengan mimpi-mimpi besar. Saya sudah mengatur strategi untuk serius membayar seorang guru renang. Walaupun sebenarnya saya bisa aja minta tolong teman untuk mengajari saya. Tapi saya pikir ketika saya membayar maka saya akan merasa rugi ketika tidak mendapatkan apa-apa padahal sudah mengeluarkan uang. Atas itung-itungan ekonomi inilah saya membulatkan tekad untuk berenang 😀

Kalau resolusi membaca 12 buku sepanjang 2010, lebih kepada memenuhi kerinduan diri untuk tenggelam dalam barisan kata. Mulai dari novel, cerpen, sampai teori-teori yang bikin dahi berkerut. Saya ingin mengembalikan semangat kuliah dulu yang selalu jatuh cinta dengan bau kertas-kertas yang menua. Kenapa ngga daftar kuliah aja?

Ya ini masalah klasik, saya ngga punya uang untuk bayar S-2. Dan entah kenapa lagi malas aja cari beasiswa. Proses “menjual muka” ke dosen atau seseorang untuk mendapatkan rekomendasi bikin saya males. Tapi saya percaya, saya tidak akan pernah menutup diri untuk menangkap kesempatan di depan mata. Artinya ketika saya melihat ada peluang besar, samber aja toh peluang adalah rejeki. Mubazir kalau disia-siakan 😀

Saya jadi penasaran, apa ada resolusi yang lebih sederhana dari resolusi saya 😀

Previous Older Entries