Pendidikan Seks Bukan Hanya Untuk Anak-Anak

Okeh saya harus menulis, karena kalau tidak saya bisa didera trauma sampai besok pagi. Atau kalau mau lebay, trauma itu bisa saya bawa dalam mimpi…

Jadi hari ini saya meliput acara mengenai bagaimana orang tua memberikan pendidikan seks atau sex education kepada anak-anaknya. Salah satu pembicara, Sani B Hermawan, bercerita bahwa kliniknya beberapa kali didatangi kasus pelecehan terhadap anak. Diantara beberapa cerita yang disampaikan psikolog smiling face itu adalah mengenai anak perempuan yang dilecehkan oleh supirnya sendiri.

Anak itu masih duduk di bangku SD, umurnya sekitar 7 tahun. Ibunya kaget pas denger anaknya cerita kalau pipis sakit. Pas dilihat ternyata kelamin anaknya sudah lecet. Akhirnya, ibunya membawa ke dokter. Dan hasilnya, anaknya sudah pernah mengalami pendarahan alias selaput darahnya sudah rusak. Untuk membuat anak tak merasa tertekan bercerita bagaimana semuanya terjadi, sang anak dibawa ke psikolog. Sang anak pun bercerita, kalau supirnya sering memasukkan tangan kirinya ke vaginanya. “Jadi tangan kanannya memegang stir, tangan kirinya menyentuh alat kelamin anak itu,” Sani memberi gambaran.

Saya menutup mata dan telinga, sambil berkata, “Oh My God.” Saya gemetaran, saya merinding, dan saya coba membayangkan bagaimana anak itu bercerita. Dia pasti ketakutan dan yang pasti kesakitan!

Lalu Sani menceritakan pengalaman anak yang lain. Kali ini laki-laki, masih duduk di SD juga. Dia mendapat guru les bahasa inggris privat. Ngga tanggung-tanggung, gurunya lulusan S2 dari luar negeri.

Satu hari, pas ayah anak itu memandikan anaknya, si anak merasa kesakitan. “Ayah jangan digosok bagian belakangnya, sakit,” ucap anak itu sambil menunjuk bagian pantat. Yah bisa dibayangkanlah apa yang terjadi, anusnya lecet. Dan anak itu bercerita adalah sang guru les yang melakukan sodomi terhadap dirinya.

Ngga cuman itu, sang guru bahkan memiliki cara unik untuk menghukum anaknya setiap kali tidak bisa menjawab soal. Anak itu disuruh melepaskan baju dan ditelanjangi. Mungkin kita bertanya, “Emang orang rumahnya kaga ada yang liat apa?” Jadi ternyata, sang guru memberi alasan, kamar belajarnya harus dikunci setiap kali les. Karena anaknya suka lari sana-sini, jadi biar mudah dikendalikan ya dikunci saja kamarnya. Ya anak itu memang mudah dikendalikan. Bahkan dikendalikan dengan tidak manusiawi.

Entah ada apa dengan hari ini. Rasanya info di liputan tadi siang tak cukup buat saya. Karena tanpa sengaja, saya menyaksikan laporan khusus di salah satu stasiun televisi yang mengungkap mengenai kehidupan seksualitas anak-anak jalanan. Iya anak-anak jalanan juga jadi korban. Bahkan ada anak yang masih berumur 9-10 tahunan bercerita, kalau dia minum pil KB biar tidak hamil. Oh Tuhan, hari apa ini ya? Saya sampai tidak bisa tidur karena terlalu shock menerima semua info itu.

Jika berbicara mengenai pelecehan seksual, saya selalu percaya kita harus memiliki keberanian untuk melawan. Tapi tidak semua situasi menawarkan keberanian yang sama. Anak-anak kecil misalnya, mereka bukannya tidak berani tapi tidak mengerti. Dan pendidikan seks itu adalah modal dia untuk mengerti bahwa alat kelaminnya bukan jadi komoditas kepuasan orang lain.

Tapi tidak semua orang setuju dengan pendidikan seks. Sebab banyak yang mengartikan pendidikan seks adalah memberi tahu mengenai bagaimana berhubungan seks. Padahal sebenarnya pendidikan seks adalah proses pembelajaran akan jenis kelamin. Ya karena secara arti kata, seks adalah jenis kelamin.

Ketika kita mengenal kelamin kita, maka kita akan mengenal tubuh kita, plus kita akan mengenal diri kita. Jadi kalau mau bicara mengenai pengenalan diri, menurut saya, harusnya mulai dari mengenali kelamin kita. Pengenalan kelamin akan membuat kita melindungi kelamin. Karena proses pengenalan akan menciptakan keterikatan emosi, ada pembentukan psikologi kepemilikan di dalamnya. Walhasil kita menjadi perlu melindungi kelamin, melindungi tubuh, serta melindungi diri.

Jadi sebenarnya pendidikan seks, bukan hanya proses setahun atau dua tahun tapi seumur hidup. Ini juga yang disampaikan Sani. Saat kita dewasa dan berumah tangga, pendidikan seks akan menjadi modal untuk membuat kita setia terhadap pasangan. Karena sebenarnya pendidikan seks akan membuat kita sadar bahwa pengendalian diri itu adalah wujud pelindungan diri.

Makanya kalau ada orang yang bilang pendidikan seks itu justru akan membuat anak-anak penasaran akan seks sebenarnya, harusnya ditanya balik, emangnya kasih pendidikan seksnya gimana? Judunya aja udah pendidikan, bukan pengajaran. Artinya tujuan pendidikan adalah menciptakan karakter, sedangkan pengajaran bersifat menciptakan skill.

Jadi, ayolah mulai membuka diri terhadap pendidikan seks. Setidaknya ketika orang dewasanya cukup percaya diri untuk memahami pendidikan seks maka anak-anak akan lebih jelas memahami pendidikan seks. Karena suka atau tidak, tempat belajar anak-anak pertama kali adalah orang-orang dewasa di sekitarnya. Jadi siapa bilang jadi orang dewasa mudah dan menyenangkan? Tanggung jawabnya banyak tau!

Mudah-mudahan setelah nulis ini jadi bisa tidur

Advertisements

Menggugat Rokok

Bulan lalu, saya merasa gerah dengan iklan yang mengatasnamakan petani tembakau. Mereka bilang, memasukkan rokok sebagai zat adiktif dalam undang-undang kesehatan akan mengancam hajat hidup petani tembakau. Seolah-olah tanah kita cuman bisa ditanamin tembakau.

Sebagai orang yang anti tembakau, of course saya keberatan. Karena tanah kita ngga cuman bisa ditanamin tembakau. Sayur dan buah misalnya, sepertinya semua orang makan nih makanan deh. Dan ngga ada efek merugikan dari orang yang tidak mengonsumsi makanan ini, ketika ada orang lain yang mengunyah di sekitarnya. Ngga kaya rokok, yang memilih untuk hidup sehat bisa jadi penyakitan gara-gara asap rokok yang disembul ke udara.

Itu kenapa saya percaya, iklan itu hanya dibuat untuk menguntungkan pengusahanya aja. Nama petani kemudian “dijual” untuk menciptakan kesan bahwa tidak ada jalan lain selain menanam tembakau.

Saya juga cukup senang ketika Muhammadyah memberikan fatwa haram atas rokok. Di Indonesia, fatwa jadi penting karena menjalani apa yang disarankan alim ulama adalah penting bagi masyarakat yang sila pertama di Pancasilanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ya alim ulama kan katanya pengejewantahan pesan-pesan Tuhan. Ya sudahlah, wong fatwanya benar kita harus mengamini dong 😀

Mudah-mudahan dengan fatwa ini, orang jadi ngerti untuk lebih mendahulukan kesehatan keluarganya ketimbang beli berbungkus-bungkus rokok. Saya pernah menghadiri acara yang dilakukan BKKBN. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional itu bilang, banyak masyarakat miskin merasa tidak sanggup untuk memberikan vaksin pada anak-anaknya karena ngga punya uang. Tapi faktanya, kepala keluarga masih sanggup untuk beli 1-2 bungkus rokok setiap hari.

Kalau mau main sinis-sinisan, 1 bungkus rokok itu kita pukul rata aja jadi Rp 5.000 dan sehari bisa Rp 5.000-10.000 uang dikeluarkan hanya untuk mengepulkan racun-racun rokok ke udara. Padahal pendapatan mereka mungkin hanya dikisaran Rp 30.000 per hari. Jadi sebenarnya kalau mau jujur, pengusaha rokok yang gedungnya mentereng di bilangan Soedirman itu dibiayai dari pembeli rokok yang pendapatannya ngga bagus-bagus amat.

Mungkin ada yang protes dengan bilang, pabrik rokok yang berhasil menyantolkan nama pemiliknya sebagai salah satu orang terkaya di dunia ini, berhasil menyerap tenaga kerja yang banyak di pabrik rokok mereka. Tapi apa iya, kualitas kehidupan buruh rokok lebih baik dari bos-bosnya? Ini masih debateable juga kan.

Kalau lahan tembakau diubah jadi agrobisnis yang mapan, saya percaya, petaninya bisa lebih sehat karena tidak harus menggulung tembakau yang bisa meninggalkan racun di jari jemari mereka. Dan kembali semua masyarakat bisa lebih akrab dengan sayur dan buah ketimbang rokok. Artinya kualitas hidup secara standar kesehatan akan terpenuhi. Jadi masih mau cari alasan untuk bilang kalau rokok itu melibatkan hajat hidup orang banyak?

Kemarahan Klasik, Perbedaan!!!

Saya sedang marah…dan bosen sebenarnya dengan penyebab kemarahan ini….pembedaan…ah cerita klasik…saya harus cari cara untuk berhenti dari rasa amarah ini….

Perbedaan yang disebabkan oleh kebiasaan kebudayaan yang patriakri….masalah usang yang bikin muak!!!!

Kecemburuan Perempuan

Sebenarnya apa yang akan saya tulis ini, adalah masalah klasik. Tapi saking klasiknya, permasalahannya tidak pernah menemukan solusi yang ajeg.  Well, saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg yang membuat gerah hati saking keselnya.

Di era penerbangan murah seperti sekarang, mengunjungi satu daerah atau negara adalah kesenangan. Kadang kala, kesenangan itu hanya ingin dinikmati dengan orang terkasih. Maka tidak heran jika sepasang kekasih memutuskan untuk menikmati suasana kota yang benar-benar berbeda dari apa yang biasa mereka hadapi. Tapi ada satu hal yang mengganjal sebenarnya.

Dari riset kecil-kecilan yang saya lakukan, ada perbedaan kebebasan antara anak perempuan dengan anak laki-laki. Kata anak saya gunakan untuk menggambarkan perbedaan ini datang dari persepsi orang tua yang bermuara pada ‘apa kata orang nanti’. Beberapa teman perempuan saya bercerita, mereka tidak berani bilang ke orang tua jika bepergian keluar kota bersama kekasih. Orang tua pasti mencap dengan berbagai pikiran negatif. “Perempuan itu harus jaga diri, jangan menjebak diri sendiri.” Sedangkan pada teman laki-laki, mereka seperti tidak perlu dicap macam-macam kalau ketahuan pergi keluar kota bersama kekasihnya. “Hati-hati, kalau sudah sampai tujuan, beri kabar.”

Saya semakin melakukan pengkajian. Rintangan tidak berarti juga dialami laki-laki ketika mereka memberi tahu akan keluar kota bersama teman-temannya. Ya naik gunung lah, ya diving lah, ya apapun itu, mereka selalu dapat keleluasaan lebih. Beda tentunya dengan anak perempuan, bila memutuskan berlibur ke luar kota bersama teman-temannya.

“Siapa aja teman-temannya?” Pertanyaan ini untuk menyakinkan orang tua, apakah anak perempuan mereka pergi dengan orang yang benar. Dan sudah dapat dipastikan definisi dari kata benar, akan mengarah pada anak-anak yang tingkah lakunya aman alias ngga neko-neko. “Tinggal di mana nanti? Berapa lama perginya? Ada temen cowonya?” Pertanyaan-pertanyaan ini untuk mengamankan persepsi orang tua, bahwa tidak apa-apa melepaskan anak perempuannya bersenang-senang bersama teman-temannya di luar kota. Lalu pertanyaan mengenai ada teman cowonya, untuk menyakinkan orang tua bahwa teman cowo itu sekedar teman tidak ada embel-embel merajut asmara.

Intinya mah benar-benar ingin melindungi perempuan. Meskipun pelindungan yang dimaksud lebih kepada bagaimana menjaga perempuan tetap pada jalur tuntutan sosial. Kalau perempuan melakukan kesalahan sedikit saja, akan berdampak pada nama keluarga besar. Maka anak perempuan harus selalu dijaga, bermain dengan siapa, melakukan apa, dan bersenang-senang dengan apa.

Sedangkan anak laki-laki selalu dapat kesempatan untuk dimaklumi. Lihat saja kalau ada sepasang kekasih yang menikah karena hamil duluan yang dipersalahkan lebih dalam adalah perempuannya. Tidak bisa jaga dirilah, bukan perempuan baik-baiklah, dan banyak lagi yang seolah-olah menempatkan keutuhan keluarga dan kestabilan sosial pada kelamin perempuan.

Yang laki-laki perlu lakukan hanya bertanggung jawab dan menikahi perempuan itu. Biasanya keluarga laki-laki akan punya power lebih karena mereka sadar keluarga perempuan akan tunduk, selama anak perempuannya dinikahi.  Lagi-lagi, kenikmatan bersama harus menjadi tanggung jawab dan buah pala yang ditelan bulat-bulat oleh perempuan.

Maka ketika ada teman perempuan yang terdengar pergi berlibur bersama kekasihnya, pertanyaan yang paling banyak menghampirinya adalah “Lo bilang apa sama orang rumah?”. Sedangkan ketika ada teman laki-laki yang bepergian bersama kekasihnya keluar kota, pertanyaan yang ada hanya “Berapa lama di sana?”. Bahkan teman saya yang laki-laki itu berujar, keluarganya (baca : orang tua) seperti tidak mempermasalahkan dimana dia akan tidur. Walaupun kedua orang tua menyadari, tidak ada keluarga yang dapat ditumpangi di kota yang menjadi tujuan Sang anak dan kekasihnya itu. Orang tua seolah-olah takut bertanya bahkan, takut anak tersinggung karena orang tua percaya anak laki-laki lebih bisa menjaga diri.  Kondisi ini sudah pasti melegakan bagi teman saya itu, “Gua kaga perlu merekayasa cerita,” ucapnya sumringah.

Saya cemburu, kenapa laki-laki selalu punya peluang lebih untuk menjadi binal tapi kata binal tidak pernah melekat pada identitas kelaki-lakiannya. Saya cemburu karena laki-laki selalu direstui oleh sistem sosial untuk melakukan apa saja karena yang harus bertanggung jawab bukan nafsu mereka tapi kebertahanan perempuan yang lemah.

Saya ingin laki-laki juga dituntut untuk menjaga keperjakaannya. Harusnya Tuhan beri selaput pada ujung kelamin laki-laki, jadi selalu ada membran sosial untuk mengkungkungnya dalam nafas kesucian. I’m so angry to realise that this social cronic disease still exist even they say that we are in millinium era…

Apasih Agama Itu?

Semalam (29/1), salah satu sahabat saya menelepon dengan tema curhat. Lama juga saya tidak mendengar cerita dari dia. Bahkan janji dia untuk menelepon saya batal berkali-kali. Tapi entah kenapa saya penasaran terus dengan kabarnya, alhasil saya kirimi dia sms standar. Sms standar adalah sms dengan misi menyindir dia untuk memenuhi janjinya, menelepon saya.”Eh apa kabar lo?” begitu saya menulis sesindir-sindirnya. Ini bahasa Indonesia yang salah 🙂 Sms saya dibales, “Gua pengen curhat sama lo, tapi besok ya pake nomer simpati gua.” “Ah cerita lama,” gumam saya dalam hati, maklum batalnya dia menelepon saya berkali-kali ya dengan pernyataan itu tadi. Akhirnya saya cuekin, sampai kemudian dia menelpon saya. Saya hanya tertawa mengangkat teleponnya. Dia sadar, saya menyindirnya dan kami pun mulai bercerita. Ada dua hal besar yang saya ketahui menyangkut “dunia” terbarunya saat ini. Pertama, dia sudah punya pacar baru. Kedua, pacar barunya muslim.

Hahahaha…dia mau “konsultasi” sama saya karena saat ini kami berada dalam gelombang yang sama. Sahabat saya ini, tengah mencari tahu bagaimana proses dan aturan pernikahan beda agama di Indonesia. Saya bilang, di Indonesia mahal, baik Paramadina maupun Wahid Institute, saran saya nikah di luar negeri saja. Mahal, tapi sekalian bulan madu 😀 Saya bilang, di Indonesia yang mahal administrasi dan doa prihatin dari banyak orang karena diasumsikan anak-anak dari pernikahan beda agama akan kacau balau dalam berkeyakinan.

Keyakinan atau bahasa awam Indonesianya, agama adalah barang sakral di negara Pancasila ini. Sewaktu saya SMA, saya pernah ditunjuk sebagai pengatur jadwal persekutuan sekolah. Malah kalau orang yang saya “tunjuk” memimpin persekutuan tidak hadir atau kabur, saya harus siap sedia menggantikannya. Tapi ketika itu juga, saya menganggap aneh guru agama saya yang bilang bahwa “Terang dan gelap tidak dapat bersatu.” Ini ayat terfavorit yang digunakan kepada mereka yang ingin menikah beda agama. Padahal ketika itu, saya tidak punya pacar. Jadi boro-boro mikir nikah beda agama. Guru agama saya memperkenalkan ayat itu karena kurikulum pendidikan agama Kristen mempersepsikan, anak-anak SMA tengah dimabuk cinta. Jadi sebelum terlalu mabuk ya dibekali dengan ayat yang fundamental.

Saya sampai berkali-kali membaca ayat itu,apasih maksudnya? Siapa yang terang dan siapa yang gelap? Latar belakang apa yang membuat ayat itu muncul? Pertanyaan-pertanyaan ini, saya bawa sampai saya kuliah dan bertemu dengan kata pluralisme. Nyawa pluralisme adalah memberi keindahan pada keberagaman. Jadi tidak ada tuh gelap dan terang, semuanya indah. Pertanyaan-pertanyaan awal mengenai ayat gelap dan terang tidak dapat bersatu pun hilang dari kepala saya. Karena saya mulai tenggelam dengan teologi pembebasan yang memanas-manasi agama untuk menyelamatkan umat dari kemiskinan. Bahwa agama bukan menara gading yang harus dilayani dengan kepasrahan.

Dan tanpa direncanakan, saya bertemu kembali dengan guru agama SMA saya. Dia kembali berbicara mengenai ayat itu, lagi-lagi saat itu saya belum punya pacar jadi misinya menyiapkan rambu peringatan buat saya dan teman saya. Saya pun membantah, “Yang gelap itu maksudnya siapa ya Bu?” Guru saya yang baik itu menjawab, “Orang-orang yang tidak percaya Yesus sebagai Juruslamat dan Tuhan.” “Tapi kenapa kalau Kristen dan Katolik nikah, bilangnya juga beda agama?Atau Advent dan Kristen nikah, tetap dibilang beda agama? Siapa yang gelap siapa yang terang ya?” saya mengobral rasa ingin tahu saya. Ibu guru saya terdiam dan mulai mengalihkan pertanyaan. “Emang pacarmu beda agama?” Saya bilang ke guru saya, saya belum punya pacar jadi belum tahu apa dia masuk kategori terang atau gelap.

Ah agama, lama-lama saya pikir itu cuman alat manusia saja biar terlihat beradab dan berprikemanusiaan. Karena animisme dan dinamisme masuk dalam mazhab peradaban kuno, jadi kalau mau lebih beradab (baca : modern) ya beragama Abrahamik-lah (salah ngga nih istilah). Sebab, agama-agama ini datang belakangan yang perkembangannya hampir berbarengan dengan lahirnya pikiran-pikiran filsafat yang mengkritisi agama.

Kalau dari bahasa Sangsekerta, a artinya tidak sedangkan gama bermakna kacau. Yang secara gamblang diartikan, ajaran yang melindungi manusia dari kekacauan. Agama menjadi aturan yang dibumbui legalitas Sang Pencipta. Tapi bumbu legalitas Sang Pencipta ini adalah hasil persepsi manusia yang sangat melar untuk ditarik ke sana-sini. Alhasil, perangkat yang dibuat untuk melindungi manusia dari kekacauan justru menjadi penyebab kekacauan.

Belakangan saya hanya percaya Tuhan itu ada, mau bagaimana pun cara memanggilnya tidak penting. Saya jadi tidak peduli dengan mana yang terang dan gelap, karena yang mendikotomikan keduanya adalah mahluk primata tertinggi yaitu manusia. Alhasil, saya percaya hanya ada surga, tidak ada neraka. Terlalu menyeramkan konsep penghakiman dengan dibakar habis-habisan. Tuhan kan bukan Hamurabbi yang gigi dibayar gigi.

Lalu bagaimana yang salah mendapat ganjaran atas kesalahannya? Hati nurani, menurut saya itu bahasa pertama Tuhan. Dan sakin liberalnya Tuhan, hati nurani yang kerap diabaikan, buat saya ada adalah kejahatan manusia atas eksistensinya. Artinya, ganjaran atas mengabaikan hati nurani ya dirasakan saat itu juga tidak perlu nunggu meninggal. Ganjarannya, ya tidak eksis sebagai manusia yang berakal budi memilih yang benar atau yang salah.

Dan saya dua kali menyakinkan teman saya yang mulai berpacaran beda agama untuk nikah di luar negeri saja. Karena di Indonesia, agama jadi jalan untuk mencari income. Buktinya, nikah beda agama jadi komoditas baru sebab makin hari pasarnya makin besar. Paramadina aja mem-barcode-kan harga Rp 8 juta untuk mereka yang mau nikah beda agama. Katanya Wahid Institute lebih murah, tapi tetap aja buat saya ini komersialisasi pluralisme agama. Dua insitusi itu mengklaim sebagai lembaga intelektual dan lagi-lagi rasionalisasi para intelektual juga mentok-mentoknya di uang.

Jadi, masih mau percaya sama buah pemikiran orang yang dirangkum dalam agama? Saya sih…..

Rasionalisasi Perang?

Puing II

By : Iwan Fals

Perang-perang lagi

Semakin menjadi
Berita ini hari
Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng
Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang
Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan

Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah
Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan
Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan
Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi
Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi
Bercerita pada penguasa
( Bercerita pada penguasa )

Tentang ternaknya yang mati
Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati
Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati
Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati
Tentang pacarnya yang mati
( Tentang ibunya yang mati )
Tentang istrinya yang mati

Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi
Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara
Berlomba dekap senjata

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar

Siang ini (9/01) saya kembali mendengar lagu ini dari seorang pengamen yang bernyanyi di Patas AC 84. Saya lamati lirik yang dinyanyikan, saya bergetar dan merinding. Bukan hanya karena Sang Pengamen yang berkaos putih menyanyikannya dengan bagus, tapi lebih kepada lirik yang ditambah irama lagu yang memang menarik kita pada perenungan. Kata Sang pengamen yang bernyanyi selama bis menembus Tol TB.Simatupang-Rawamangun itu, lagu Iwan Fals dinyanyikannya untuk mengajak penumpang berdoa sejenak kepada mereka yang tengah diacak-acak oleh Israel.

Posting ini bukan untuk mengomentari perang Israel-Palestina secara khusus, karena sudah banyak orang yang merubah dirinya menjadi pakar konflik Timur Tengah. Saya hanya teringat ketika kuliah dulu, mata kuliah Pengantar Ilmu Filsafat, dosen saya bertanya kenapa ada perang. Teman saya yang ditunjuk asal-asalan oleh sang dosen, dengan nada manja-manja menjawab, “Biar kita bisa mengerti indahnya damai.” Ibu dosen kaget dan seluruh anak di kelas tertawa. Bahkan saya mendengar salah seorang nyeletuk, “Ya Alloh, polos amat tuh orang”. Dosen saya, hanya senyum-senyum melihat reaksi mahasiswa yang ditunjuk dan mahasiswa yang menertawainya.

Saya sendiri tidak setuju dengan peperangan. Sewaktu masih kecil, alasannya sederhana (tapi tidak sesederhana teman saya itu tentunya) karena tangisan dari keluarga korban perang lebih memilukan dari apapun di dunia. Setelah dewasa, saya berpikir, perang itu cuman “gaya bicara” orang yang serakah. Atas nama kepentingan politik dan ekonomi, mereka membungkusnya dengan isu agama dan nasionalisme. Kemudian saya merasa tidak berkepentingan untuk memihak manapun dalam setiap kasus peperangan, kecuali korban (Baca : rakyat sipil). Mereka tidak tahu apa-apa atas kepentingan tersebut tapi mereka harus berkorban lebih banyak daripada para pemimpinnya. Dan suara lirik lagu yang dibawakan pengamen itu pun terbenam di kepala saya,

Dengan nafsu yang makin menggila
Nuklir pun tercipta
( nuklir bagai dewa )
Tampaknya sang jenderal bangga
Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian (bohong)
Demi perdamaian (bohong)
Guna perdamaian (bohong)
Dalih perdamaian (bohong)

Mana mungkin
Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan
Semua hanya bohong besar

“Perang adalah bahasa manipulasi,” mungkin ini yang akan saya katakan ketika dosen saya kembali bertanya. Dan manipulasi demi kepentingan segelintir orang (baca : penguasa) adalah kejahatan kemanusiaan yang utama. “Serdadu boneka yang malang,” kembali mengutip lirik Iwan Fals sambil berucap, tidak ada rasionalisasi untuk perang, dalam dada yang sesak.