Keyword Search Engine vs Negara Religius

Beberapa bulan lalu, saya diminta kantor untuk hadir dalam seminar mengenai prospek bisnis digital. Kantor saya menghadirkan seorang pakar bisnis digital media, Andi Syarif. Beliau adalah anak dari dokter anak yang sangat bersemangat mengampanyekan inisiasi menyusui dini dan asi eksklusif, dr.Oetami Roesli, Sp.An.

Jadi Andi Syarif ini mengawali pemaparannya mengenai potensi bisnis digital dan bagaimana pengiklan bisa dengan spesifik memilih di website atau blog mana saja iklan-iklan mereka terpasang tepat sasaran. Andi Syarif bersama timnya membuat SITTI, semacam sistem penganalisa artikel dan kemudian menyimpulkan apa yang dibicarakan pada artikel tersebut serta iklan apa yang cocok.

Sebenarnya saya tidak ingin membahas SITTI, itu hanya pengantar. Sebab kredibilitas Andi Syarif akan sangat mempengaruhi fakta yang akan saya angkat.

Jadi begini, Andi Syarif juga memaparkan, tingginya pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Bahkan Indonesia, bisa dibilang sebagai ‘ibukota’ pengguna Facebook, karena angkanya terus merambat. Secara kasar bisa disimpulkan, orang Indonesia ini sudah sangat kecanduan internet dan segala macam aktivitas di dunia maya.

Lalu Andi Syarif bercerita lagi, bahwa ada hal yang unik dari habitual ini dengan status negara religius yang kita sandang. Andi bersama timnya, iseng mencari tahu kata apa yang paling sering dicari orang Indonesia di mesin google search? Berani menebak? Coba saja…

BUGIL..Iya kata ‘BUGIL’ adalah yang paling sering di ketik pada kolom pencari ‘paman’ Google. Tidak sampai di sana, Andi, lagi-lagi bersama timnya, kemudian melihat seberapa banyak orang mengetik kata ISLAM pada kolom pencari google. HASILNYA? Kata BUGIL, masih lebih menjadi favorit. Bahkan ketika ditampilkan kedua kata secara bersamaan, jaraknya jauh sekali. Ibaratnya, kata islam, tak akan pernah sukses mendahului kata bugil. Jangankan mendahului, mendekati saja butuh berjuta-juta tenaga kekuatan kuda.

Masih belum puas mengangetkan pengunjung seminar, Andi kemudian bercerita bahwa kata Islam akan banyak diketika pada bulan puasa dan lebaran. Artinya, kalaupun traffic-nya naik, kata Islam hanya akan diingat ketika puasa serta lebaran. Tak seperti kata bugil yang senantiasa diketik oleh orang-orang, tak perlu momen dan aura khusus, setiap detik akan ada selalu yang meminta paman google mengumpulkan berbagai link yang mengarah pada kata bugil.

Saat mendengar pemaparan Andi, semua peserta seminar ketawa. Ketawa geli bahkan, ya saya termasuk di dalamnya. Tapi di dalam hati saya jadi penasaran, siapa saja yang mengetik kata bugil tersebut.

Tak lama berselang, kasus video artis berhubungan intim (bingung mau nyebutnya apa, video porno atau mesum, terdengar sangat menghakimi sekali) pun tersebar. Orang kemudian rame membicarakannya, saya bahkan ingat, Twitter sampai harus over capacity karena arus pergantian status yang membicarakan video itu sangat cepat. Dan secara tiba-tiba orang merasa punya kewajiban untuk menghakimi.

Saya selalu mencoba untuk tak berkomentar setiap kali isu itu naik ke permukaan. Bahkan saya ingat, dalam satu hari 3 kali bertemu dengan orang-orang pada acara dan lokasi yang berbeda-beda, tapi tetap isu yang hangat dibicarakan adalah video tersebut. Bahkan sampai supir taksi pun mengangkatnya sebagai pembicaraan ringan bersama penumpang.

Kita memang sangat doyan dengan isu-isu seksualitas. Sama seperti kita doyan mendeklarasikan bahwa agama adalah nafas kehidupan masyarakat kita. Tapi pada kenyataanya, secara statistik (setidaknya statistik google analytics berbicara demikian dan ini yang tercatat secara sistem) isu agama tidak pernah seseksi isu seks. Agama justru menunjukkan taringnya ketika isu seks muncul dengan iming-iming meresahkan masyarakat. Jadi hanya bersifat peredam.

Ibarat peredam dalam pistol, agama dipakai untuk membuat orang lumpuh atau diam tapi tanpa suara, tanpa jejak, yang penting diam. Karena kita percaya, ketika membawa ayat-ayat agama atau bahkan berujar,”Menurut agama,” sudah cukup sakti untuk memilah mana yang benar dan salah. Ringkasnya, agama hanya sebagai pemanis dari penghakiman kita terhadap satu hal atau seseorang.

Sebenarnya kasus video itu juga menunjukkan, betapa kita sangat suka seksualitas. Hanya saja butuh pembenaran untuk bisa menyaksikannya. Ketika orang mulai ramai membicarakannya, semua orang menjadi tak risih untuk melihatnya. Karena semua orang melihatnya, jadi batasan tabu dibuat garis putus-putus. Dan garis putus-putus itu dibuat agar kita punya perangkat untuk mengatakan apakah seks yang dilakukan dalam video itu benar atau tidak. Bahasa singkatnya, kita perlu menyaksikan video dan membicarakan itu agar bisa menegakkan status religius yang kita punya.

Jadi tak apa untuk menjual video tersebut melalui bluetooth, hanya seribu rupiah. Tak peduli siapa yang minta mendownload, selama ada uang, diberikan saja. Lalu apakah religius namanya kalau kita merasa perlu mencari nafkah dari kenistaan orang lain? Apakah menegakkan kebenaran agama namanya kalau kita merasa lega mencaci maki orang dalam video tersebut setelah ikut menyebarluaskan videonya? Sepertinya kita hanya butuh punya alasan untuk memainkan peranan Tuhan. Khususnya peranan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar, dengan begitu kita merasa telah menegakkan nilai agama dan mengokohkan status negara religius.

Dan yang selalu membuat saya gerah mengenai hal-hal seperti ini. Kita selalu luput untuk memosisikan pengedar dalam kasus video hubungan intim orang dewasa. Apalagi kalau pengedarannya sudah dilakukan secara massal. Tapi bukankah ini juga harusnya membuat kita menjadi risih, kok kita diam saja orang mencari keuntungan dari tindakan itu. Kalau memang takut video-video itu jatuh ke tangan anak-anak, ya seharusnya pengedar-pengedar yang hanya mikirin perut itu ditangkap dan ditatar secara agama. Toh kita cinta sekali dengan agama kita.

Ah kadang-kadang kita memang terlalu menyerderhanakan agama. Kita percaya dengan simbol agama yang jelas maka kita dapat mengerti di ordinat mana keimanan kita berada. Kalau memang begitu, saya memilih berada di luar ordinat saja dan mulai rajin-rajin mengetik kata religius pada mesin pencari google 😀

Advertisements

Menggugat Rokok

Bulan lalu, saya merasa gerah dengan iklan yang mengatasnamakan petani tembakau. Mereka bilang, memasukkan rokok sebagai zat adiktif dalam undang-undang kesehatan akan mengancam hajat hidup petani tembakau. Seolah-olah tanah kita cuman bisa ditanamin tembakau.

Sebagai orang yang anti tembakau, of course saya keberatan. Karena tanah kita ngga cuman bisa ditanamin tembakau. Sayur dan buah misalnya, sepertinya semua orang makan nih makanan deh. Dan ngga ada efek merugikan dari orang yang tidak mengonsumsi makanan ini, ketika ada orang lain yang mengunyah di sekitarnya. Ngga kaya rokok, yang memilih untuk hidup sehat bisa jadi penyakitan gara-gara asap rokok yang disembul ke udara.

Itu kenapa saya percaya, iklan itu hanya dibuat untuk menguntungkan pengusahanya aja. Nama petani kemudian “dijual” untuk menciptakan kesan bahwa tidak ada jalan lain selain menanam tembakau.

Saya juga cukup senang ketika Muhammadyah memberikan fatwa haram atas rokok. Di Indonesia, fatwa jadi penting karena menjalani apa yang disarankan alim ulama adalah penting bagi masyarakat yang sila pertama di Pancasilanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ya alim ulama kan katanya pengejewantahan pesan-pesan Tuhan. Ya sudahlah, wong fatwanya benar kita harus mengamini dong 😀

Mudah-mudahan dengan fatwa ini, orang jadi ngerti untuk lebih mendahulukan kesehatan keluarganya ketimbang beli berbungkus-bungkus rokok. Saya pernah menghadiri acara yang dilakukan BKKBN. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional itu bilang, banyak masyarakat miskin merasa tidak sanggup untuk memberikan vaksin pada anak-anaknya karena ngga punya uang. Tapi faktanya, kepala keluarga masih sanggup untuk beli 1-2 bungkus rokok setiap hari.

Kalau mau main sinis-sinisan, 1 bungkus rokok itu kita pukul rata aja jadi Rp 5.000 dan sehari bisa Rp 5.000-10.000 uang dikeluarkan hanya untuk mengepulkan racun-racun rokok ke udara. Padahal pendapatan mereka mungkin hanya dikisaran Rp 30.000 per hari. Jadi sebenarnya kalau mau jujur, pengusaha rokok yang gedungnya mentereng di bilangan Soedirman itu dibiayai dari pembeli rokok yang pendapatannya ngga bagus-bagus amat.

Mungkin ada yang protes dengan bilang, pabrik rokok yang berhasil menyantolkan nama pemiliknya sebagai salah satu orang terkaya di dunia ini, berhasil menyerap tenaga kerja yang banyak di pabrik rokok mereka. Tapi apa iya, kualitas kehidupan buruh rokok lebih baik dari bos-bosnya? Ini masih debateable juga kan.

Kalau lahan tembakau diubah jadi agrobisnis yang mapan, saya percaya, petaninya bisa lebih sehat karena tidak harus menggulung tembakau yang bisa meninggalkan racun di jari jemari mereka. Dan kembali semua masyarakat bisa lebih akrab dengan sayur dan buah ketimbang rokok. Artinya kualitas hidup secara standar kesehatan akan terpenuhi. Jadi masih mau cari alasan untuk bilang kalau rokok itu melibatkan hajat hidup orang banyak?

Saya Berlaku Adil

Sebelum

Sebelum

Hari ini, 7 Juli 2009, Indonesia menggelar pemilihan presiden. Entah karena terlalu apatis atau memang tidak menemukan keterwakilan, saya menggagalkan hak suara saya secara sah. Saya lebih rela menggagalkannya sendiri ketimbang digunakan secara percaya diri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Saya memilih karena keputusan untuk tidak memilih juga sebuah pilihan yang masuk akal dan sadar….

pilpres 2009b