Everybody’s Fine

Jumat (28/5) kemarin saya memutuskan untuk menonton film setelah hampir seharian tak berhasil mengumpulkan wangsit untuk menulis artikel pekerjaan. Saya mencari dalam rak koleksi DVD-DVD abang saya yang tersusun sangat rapih. Kalau berbicara mengenai selera film, terus terang saya tak suka yang berbau futuristik, peperangan, atau yang berantem-berantem. Terlalu lelah menonton film-film jenis itu.

Itu mengapa saya lebih mencari film-film ber-genre drama atau komedi romantis. Karena yang saya harapkan dari aktivitas menonton film adalah mendapatkan pemikiran baru plus dapat tertawa. Dan malam kemarin saya berjodoh dengan film bertajuk Everybody’s Fine.

Film ini diperankan oleh Robert de Niro, aktor kawakan yang bisa bermain genre film apa saja. Kualitas aktingnya ngga perlu diperjelas lagi dalam tulisan ini.

Dalam film ini, de Niro berperan sebagai seorang ayah yang memiliki 4 anak, 2 perempuan dan 2 laki-laki. Dia adalah ayah yang bekerja sebagai pembungkus kabel telepon dengan PVC (Poly Vinyl Chloride) agar tidak rusak oleh perubahan cuaca. Bekerja gila-gilaan demi mengantarkan anak-anaknya ke pintu kesuksesan. Karena terlalu sering bersentuhan dengan PVC, paru-paru de Niro yang berperan sebagai Frank Doode menjadi sangat rusak. Alhasil masa pensiunnya tergantung pada obat-obatan.

Tapi film ini tak bercerita mengenai perjuangan dia dengan paru-paru yang nge-pas, melainkan bagaimana niat baiknya untuk bisa akrab dengan anak-anaknya menghasilkan begitu banyak keterkejutan. Jadi setelah isterinya meninggal, Frank merasa punya tanggung jawab untuk kembali menyatukan anak-anaknya di meja makan pada hari-hari libur besar. Alhasil saat momen itu tiba, dia menyiapkan semuanya dengan sempurna tapi anak-anaknya malah membatalkan pertemuan itu dengan berbagai agenda kesibukannya masing-masing.

Apa yang dilakukan Frank? Dia memutuskan mengunjungi anaknya satu per satu, hanya sekadar untuk memberikan undangan berkumpul di rumahnya pas natal nanti. Tapi ide jalan-jalan impulsif ini justru menampilkan realitas yang lain. Realitas itu adalah, selama ini anak-anak dan isterinya menutupi banyak hal dari dirinya.

Mulai dari anaknya yang dikiranya konduktor satu orkestra ternyata hanya seorang pemain perkusi, anaknya yang dikiranya penari terkenal di Las Vegas ternyata hanya seorang pramusaji toko, anaknya yang sukses punya firma periklanan dengan rumah tangga yang bahagia ternyata sedang pisah ranjang dengan suami karena wanita ketiga, hingga anaknya yang pelukis terkenal ternyata hanya pelukis biasa yang pada akhirnya diketahui mati di Mexico karena overdosis.

Uniknya film ini adalah, setiap kali melintasi kabel telepon selama perjalanan dia menemui anak-anaknya, sutradara akan menampilkan interkasi anak-anaknya di telepon. Bagaimana mereka mencoba mengatur strategi agar ayahnya tak perlu tau masalah atau kegagalan apa yang tengah dihadapi. Dan ada satu ucapan Frank yang bagus ketika berbincang-bincang dengan salah satu penumpang kereta, “Butuh 50 ribu kaki kabel telepon agar saya bisa menghubungi anak-anak saya di tempat tinggal mereka. Dan 50 ribu kaki kabel itulah yang membuat mereka menjadi sukses seperti sekarang, karena kerja keras saya yang tak pernah berhenti.”

Kata-kata yang bagus untuk menunjukkan betapa orangtua berjuang cukup keras untuk memperbaiki jalan hidup anak-anaknya. Namun tak selamanya keinginan dan perjuangan keras kita berakhir dengan kesuksesan. Karena di film ini anak-anak Frank ngga tega untuk bilang yang sejujurnya tentang kehidupan meraka. Bahwa mereka tak bisa memenuhi definisi sukses ayahnya dan mereka juga melakukan begitu banyak kegagalan yang membuat mereka (mungkin) menjadi anak yang tak baik. Tapi semua proses itu mereka jalanin dengan sadar hingga apapun posisi mereka sekarang, mereka bahagia karena mereka memilihnya.

Hanya saja capaian dan definisi kebahagian anak tidak sesuai dengan harapan dan wejangan sang ayah, alhasil mereka memilih untuk HANYA MENCERITAKAN YANG BAIK-BAIK saja kepada Frank. Saya langsung teringat dengan istilah berbohong demi kebaikan adalah dibenarkan. Dan film ini menampilkannya dengan sangat pas tanpa niat menggurui. Bahwa pada level tertentu mensiasati situasi untuk orang yang sudah bekerja keras demi kita adalah pilihan yang bisa diterima. Tapi pada titik moral tertentu, berbohong demi kebaikan bukanlah nilai utuh kebaikan itu sendiri. Sebab kebaikan bukan sekadar membungkus semuanya menjadi manis dan membuat orang lain senang atas apa yang kita lakukan. Melainkan menjadi terbuka atas setiap tindak kejujuran yang kita berikan.

Hal lain yang juga menarik dari film ini, setiap kali Frank bertemu anaknya, dia akan melihat sosok anaknya ketika masih kecil. Berlari dengan lugu menghampirinya, Frank terbuai dengan pikiran bahwa mereka masih anak-anak dan akan selalu menuruti apa yang diminta. Dan uniknya lagi, sebenarnya Frank sudah mengetahui dari awal kalau anak-anaknya membohongi dia, tapi dia tidak langsung marah. Dia menyimpannya dalam-dalam sambil berpikir dirinya terlalu keras untuk menuntut anak-anaknya memenuhi definisi sukses serta bahagia yang dia punya.

Dia akhirnya menyadari bahwa ketika anak menjadi dewasa, mereka adalah individu utuh yang punya ordinat kebahagiaanya sendiri. Dan di titik mana ordinat itu diletakkan, semuanya adalah kebebasan individu yang tak harus berarsiran dengan harapan individu yang lain.

Filmnya bagus dan pesan yang dibawa juga sangat kuat. Menjadi orangtua memang tak mudah tapi bukan berarti menjadi anak sama dengan bebas dari beban. Bener-bener ngajak merenung nih film ;D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: