Stagnasi

The image was taken from Angelaelizabethmoore.blogspot.com

Hari ini libur, tapi saya masih harus bekerja. Saya mencintai pekerjaan saya. Saya menggilai pekerjaan saya. Menulis itu ada di dalam darah saya. Tapi kali ini saya ingin mencari level menulis yang lain. Menulis yang tidak hanya memuaskan traffic atau advertising. Saya butuh kepuasan diri. Dan stagnasi ini membuat saya seperti robot dengan rutinitas yang sudah diprogram. Ah stagnasi memang proses pembodohan. Cara untuk keluar dari pembodohan adalah dengan melawan dan saya ingin MELAWAN!!!!

Saya harus memberi makan eksistensi diri saya. Ah benar-benar butuh menyelamatkan diri nih…Kemana perginya kekuatan alam yang mendorong kita saat perjalanan menuju legenda pribadi?

Advertisements

Bisa Berenang Itu Resolusi Saya!

Maklum tahun baru, jadi setiap kali ketemu teman pasti yang ditanya, “Resolusi lo apa?”

Beberapa teman saya menjawab dengan sistematis. Mulai dari resolusi status seperti menikah, karakter yang ingin menjadi orang yang lebih baik, sampai dapat beasiswa. Sedangkan saya, hanya menjawab, “Pengen bisa berenang biar bisa nyelam di wakatobi dan menghabiskan minimal 12 buku sepanjang 2010!”

Hahahahaha…iya sederhana banget. Karena jujur saya tidak terbisa membuat resolusi yang serius-serius. Kalau pun saya buat, itu biasanya seminggu sebelum ulang tahun dan biasanya hanya 1 atau 2 target. Karena saya lebih suka menyebutnya tema usia kesekian. Saya memilih satu kata atau merangkai satu kalimat untuk dijadikan jargon dalam menjalani pertambahan usia itu. Tidak pernah sampai detail, karena saya termasuk orang yang cinta dengan semangat let it flow.

Dan entah kenapa, saya ingin membuat sesuatu yang detail tahun ini walaupun hanya dua. Tapi saya percaya resolusi tidak berhenti dibuat di awal tahun. Pada perjalanannya saat kita dapat ide untuk mengejar sesuatu, kayanya sah-sah aja untuk menambahkan list itu. Walaupun kemudian ujung-ujungnya let it flow juga.

Tapi ya mendengar beberapa teman punya resolusi yang unik-unik dengan capaian yang besar. Saya tergoda juga tapi pas saya tanya diri saya, jawabannya, “Ah udahlah itu ngga begitu penting.” Buat saya resolusi bisa berenang dan menyelam di Wakatobi itu resolusi besar karena saya ini ternyata fobia air.

Jadi saya pernah diceburin atau dilelepin lebih tepatnya, oleh dua saudara laki-laki saya. Padahal kolam itu ngga dalam, hanya sedada saya. Artinya saya menapakkan kaki di dasar kolam pun tetap bisa membuat saya bernapas. Tapi ntah kenapa saya menangis sesenggukan dan saat keluar dari kolam saya gemetaran.

Saya shock, bukan karena hanya dilelepin tapi juga karena saya baru mengetahui ternyata saya sebegitu fobianya terhadap luapan air. Dan setiap kali saya menonton film atau berada di atas pesawat, kadang-kadang pikiran horor suka melintas. Pikiran horor itu adalah apa yang akan saya lakukan kalau saya terpaksa terjun dan mengapung di lautan bebas. Bulu kuduk saya langsung berdiri…damn saya ngga bisa berenang. Bahkan ketika saya membayangkan menggunakan pelampung di atas lautan, tetap saja saya menggelengkan kepala dengan kencang pertanda tidak mau mengalami pikiran horor itu.

Jadi ketika saya berani mendeklarasikan ingin belajar berenang bahkan menyelam di Wakatobi, itu MIMPI BESAR! Dan saya selalu tertantang dengan mimpi-mimpi besar. Saya sudah mengatur strategi untuk serius membayar seorang guru renang. Walaupun sebenarnya saya bisa aja minta tolong teman untuk mengajari saya. Tapi saya pikir ketika saya membayar maka saya akan merasa rugi ketika tidak mendapatkan apa-apa padahal sudah mengeluarkan uang. Atas itung-itungan ekonomi inilah saya membulatkan tekad untuk berenang 😀

Kalau resolusi membaca 12 buku sepanjang 2010, lebih kepada memenuhi kerinduan diri untuk tenggelam dalam barisan kata. Mulai dari novel, cerpen, sampai teori-teori yang bikin dahi berkerut. Saya ingin mengembalikan semangat kuliah dulu yang selalu jatuh cinta dengan bau kertas-kertas yang menua. Kenapa ngga daftar kuliah aja?

Ya ini masalah klasik, saya ngga punya uang untuk bayar S-2. Dan entah kenapa lagi malas aja cari beasiswa. Proses “menjual muka” ke dosen atau seseorang untuk mendapatkan rekomendasi bikin saya males. Tapi saya percaya, saya tidak akan pernah menutup diri untuk menangkap kesempatan di depan mata. Artinya ketika saya melihat ada peluang besar, samber aja toh peluang adalah rejeki. Mubazir kalau disia-siakan 😀

Saya jadi penasaran, apa ada resolusi yang lebih sederhana dari resolusi saya 😀