Menggugat Rokok

Bulan lalu, saya merasa gerah dengan iklan yang mengatasnamakan petani tembakau. Mereka bilang, memasukkan rokok sebagai zat adiktif dalam undang-undang kesehatan akan mengancam hajat hidup petani tembakau. Seolah-olah tanah kita cuman bisa ditanamin tembakau.

Sebagai orang yang anti tembakau, of course saya keberatan. Karena tanah kita ngga cuman bisa ditanamin tembakau. Sayur dan buah misalnya, sepertinya semua orang makan nih makanan deh. Dan ngga ada efek merugikan dari orang yang tidak mengonsumsi makanan ini, ketika ada orang lain yang mengunyah di sekitarnya. Ngga kaya rokok, yang memilih untuk hidup sehat bisa jadi penyakitan gara-gara asap rokok yang disembul ke udara.

Itu kenapa saya percaya, iklan itu hanya dibuat untuk menguntungkan pengusahanya aja. Nama petani kemudian “dijual” untuk menciptakan kesan bahwa tidak ada jalan lain selain menanam tembakau.

Saya juga cukup senang ketika Muhammadyah memberikan fatwa haram atas rokok. Di Indonesia, fatwa jadi penting karena menjalani apa yang disarankan alim ulama adalah penting bagi masyarakat yang sila pertama di Pancasilanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ya alim ulama kan katanya pengejewantahan pesan-pesan Tuhan. Ya sudahlah, wong fatwanya benar kita harus mengamini dong 😀

Mudah-mudahan dengan fatwa ini, orang jadi ngerti untuk lebih mendahulukan kesehatan keluarganya ketimbang beli berbungkus-bungkus rokok. Saya pernah menghadiri acara yang dilakukan BKKBN. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional itu bilang, banyak masyarakat miskin merasa tidak sanggup untuk memberikan vaksin pada anak-anaknya karena ngga punya uang. Tapi faktanya, kepala keluarga masih sanggup untuk beli 1-2 bungkus rokok setiap hari.

Kalau mau main sinis-sinisan, 1 bungkus rokok itu kita pukul rata aja jadi Rp 5.000 dan sehari bisa Rp 5.000-10.000 uang dikeluarkan hanya untuk mengepulkan racun-racun rokok ke udara. Padahal pendapatan mereka mungkin hanya dikisaran Rp 30.000 per hari. Jadi sebenarnya kalau mau jujur, pengusaha rokok yang gedungnya mentereng di bilangan Soedirman itu dibiayai dari pembeli rokok yang pendapatannya ngga bagus-bagus amat.

Mungkin ada yang protes dengan bilang, pabrik rokok yang berhasil menyantolkan nama pemiliknya sebagai salah satu orang terkaya di dunia ini, berhasil menyerap tenaga kerja yang banyak di pabrik rokok mereka. Tapi apa iya, kualitas kehidupan buruh rokok lebih baik dari bos-bosnya? Ini masih debateable juga kan.

Kalau lahan tembakau diubah jadi agrobisnis yang mapan, saya percaya, petaninya bisa lebih sehat karena tidak harus menggulung tembakau yang bisa meninggalkan racun di jari jemari mereka. Dan kembali semua masyarakat bisa lebih akrab dengan sayur dan buah ketimbang rokok. Artinya kualitas hidup secara standar kesehatan akan terpenuhi. Jadi masih mau cari alasan untuk bilang kalau rokok itu melibatkan hajat hidup orang banyak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: