Pendidikan Seks Bukan Hanya Untuk Anak-Anak

Okeh saya harus menulis, karena kalau tidak saya bisa didera trauma sampai besok pagi. Atau kalau mau lebay, trauma itu bisa saya bawa dalam mimpi…

Jadi hari ini saya meliput acara mengenai bagaimana orang tua memberikan pendidikan seks atau sex education kepada anak-anaknya. Salah satu pembicara, Sani B Hermawan, bercerita bahwa kliniknya beberapa kali didatangi kasus pelecehan terhadap anak. Diantara beberapa cerita yang disampaikan psikolog smiling face itu adalah mengenai anak perempuan yang dilecehkan oleh supirnya sendiri.

Anak itu masih duduk di bangku SD, umurnya sekitar 7 tahun. Ibunya kaget pas denger anaknya cerita kalau pipis sakit. Pas dilihat ternyata kelamin anaknya sudah lecet. Akhirnya, ibunya membawa ke dokter. Dan hasilnya, anaknya sudah pernah mengalami pendarahan alias selaput darahnya sudah rusak. Untuk membuat anak tak merasa tertekan bercerita bagaimana semuanya terjadi, sang anak dibawa ke psikolog. Sang anak pun bercerita, kalau supirnya sering memasukkan tangan kirinya ke vaginanya. “Jadi tangan kanannya memegang stir, tangan kirinya menyentuh alat kelamin anak itu,” Sani memberi gambaran.

Saya menutup mata dan telinga, sambil berkata, “Oh My God.” Saya gemetaran, saya merinding, dan saya coba membayangkan bagaimana anak itu bercerita. Dia pasti ketakutan dan yang pasti kesakitan!

Lalu Sani menceritakan pengalaman anak yang lain. Kali ini laki-laki, masih duduk di SD juga. Dia mendapat guru les bahasa inggris privat. Ngga tanggung-tanggung, gurunya lulusan S2 dari luar negeri.

Satu hari, pas ayah anak itu memandikan anaknya, si anak merasa kesakitan. “Ayah jangan digosok bagian belakangnya, sakit,” ucap anak itu sambil menunjuk bagian pantat. Yah bisa dibayangkanlah apa yang terjadi, anusnya lecet. Dan anak itu bercerita adalah sang guru les yang melakukan sodomi terhadap dirinya.

Ngga cuman itu, sang guru bahkan memiliki cara unik untuk menghukum anaknya setiap kali tidak bisa menjawab soal. Anak itu disuruh melepaskan baju dan ditelanjangi. Mungkin kita bertanya, “Emang orang rumahnya kaga ada yang liat apa?” Jadi ternyata, sang guru memberi alasan, kamar belajarnya harus dikunci setiap kali les. Karena anaknya suka lari sana-sini, jadi biar mudah dikendalikan ya dikunci saja kamarnya. Ya anak itu memang mudah dikendalikan. Bahkan dikendalikan dengan tidak manusiawi.

Entah ada apa dengan hari ini. Rasanya info di liputan tadi siang tak cukup buat saya. Karena tanpa sengaja, saya menyaksikan laporan khusus di salah satu stasiun televisi yang mengungkap mengenai kehidupan seksualitas anak-anak jalanan. Iya anak-anak jalanan juga jadi korban. Bahkan ada anak yang masih berumur 9-10 tahunan bercerita, kalau dia minum pil KB biar tidak hamil. Oh Tuhan, hari apa ini ya? Saya sampai tidak bisa tidur karena terlalu shock menerima semua info itu.

Jika berbicara mengenai pelecehan seksual, saya selalu percaya kita harus memiliki keberanian untuk melawan. Tapi tidak semua situasi menawarkan keberanian yang sama. Anak-anak kecil misalnya, mereka bukannya tidak berani tapi tidak mengerti. Dan pendidikan seks itu adalah modal dia untuk mengerti bahwa alat kelaminnya bukan jadi komoditas kepuasan orang lain.

Tapi tidak semua orang setuju dengan pendidikan seks. Sebab banyak yang mengartikan pendidikan seks adalah memberi tahu mengenai bagaimana berhubungan seks. Padahal sebenarnya pendidikan seks adalah proses pembelajaran akan jenis kelamin. Ya karena secara arti kata, seks adalah jenis kelamin.

Ketika kita mengenal kelamin kita, maka kita akan mengenal tubuh kita, plus kita akan mengenal diri kita. Jadi kalau mau bicara mengenai pengenalan diri, menurut saya, harusnya mulai dari mengenali kelamin kita. Pengenalan kelamin akan membuat kita melindungi kelamin. Karena proses pengenalan akan menciptakan keterikatan emosi, ada pembentukan psikologi kepemilikan di dalamnya. Walhasil kita menjadi perlu melindungi kelamin, melindungi tubuh, serta melindungi diri.

Jadi sebenarnya pendidikan seks, bukan hanya proses setahun atau dua tahun tapi seumur hidup. Ini juga yang disampaikan Sani. Saat kita dewasa dan berumah tangga, pendidikan seks akan menjadi modal untuk membuat kita setia terhadap pasangan. Karena sebenarnya pendidikan seks akan membuat kita sadar bahwa pengendalian diri itu adalah wujud pelindungan diri.

Makanya kalau ada orang yang bilang pendidikan seks itu justru akan membuat anak-anak penasaran akan seks sebenarnya, harusnya ditanya balik, emangnya kasih pendidikan seksnya gimana? Judunya aja udah pendidikan, bukan pengajaran. Artinya tujuan pendidikan adalah menciptakan karakter, sedangkan pengajaran bersifat menciptakan skill.

Jadi, ayolah mulai membuka diri terhadap pendidikan seks. Setidaknya ketika orang dewasanya cukup percaya diri untuk memahami pendidikan seks maka anak-anak akan lebih jelas memahami pendidikan seks. Karena suka atau tidak, tempat belajar anak-anak pertama kali adalah orang-orang dewasa di sekitarnya. Jadi siapa bilang jadi orang dewasa mudah dan menyenangkan? Tanggung jawabnya banyak tau!

Mudah-mudahan setelah nulis ini jadi bisa tidur

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Mr.El-Adani
    Jul 23, 2010 @ 14:36:28

    Tragis dan buat miris mendengarnya, dan bagian yang paling memalukan sekaligus menjijikkan adalah lulusan S2 luar negeri itu :geleng2 kepala:

    bahwa pengendalian diri itu adalah wujud pelindungan diri.

    btw, saya suka kalimat di atas ini :d

    Reply

  2. butterflycircle
    Jul 24, 2010 @ 15:03:36

    Iya…banget…dengerinnya langsung bikin trauma 😦

    Hahahahahah saya baru nyadar kalau kata-kata itu bagus juga ternyata *narsis mode on*

    Reply

  3. Mr.El-Adani
    Jul 25, 2010 @ 01:46:21

    Eh Mbak, saya baru lihat, kalau tulisan ini rupanya masuk dalam katagori amarah, hehe, setuju saya, mungkin lebih pas lagi kalau digolongkan dalam katagori MURKA 😀

    Hahahahahah saya baru nyadar kalau kata-kata itu bagus juga ternyata *narsis mode on*

    Seingat saya, ada beberapa kaliamat yang saya pikir bagus, tapi takutnya nanti semakin narsis sis sis… giahaha 😛

    Reply

  4. butterflycircle
    Jul 25, 2010 @ 13:40:43

    Hahahahahah…boleh…boleh nanti ditambah kategorinya 😀

    Narsis penting loh ketimbang minder…wakakakakaka *pembelaan mode on*

    Reply

  5. dhani_danie1
    Aug 04, 2010 @ 05:34:13

    cewek itu bukan tuk di cintai melainkan tuk di NIKMATI….!!!!!!!

    Reply

    • butterflycircle
      Aug 04, 2010 @ 16:07:14

      Sebelum saya membahas konten dari komen Anda, saya ingin melakukan koreksi.

      Pertama, dicintai itu ditulisnya bukan dipisah mas…karena “di” di sini berfungsi sebagai imbuhan bukan kata depan. Sama juga dengan dinikmati, kaga dipisah.

      Mmm…kayanya kalau dari cara Anda mengekspresikan pendapat aja salah…buat apa saya percaya dengan kata-kata Anda ya….

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: