Bisa Berenang Itu Resolusi Saya!

Maklum tahun baru, jadi setiap kali ketemu teman pasti yang ditanya, “Resolusi lo apa?”

Beberapa teman saya menjawab dengan sistematis. Mulai dari resolusi status seperti menikah, karakter yang ingin menjadi orang yang lebih baik, sampai dapat beasiswa. Sedangkan saya, hanya menjawab, “Pengen bisa berenang biar bisa nyelam di wakatobi dan menghabiskan minimal 12 buku sepanjang 2010!”

Hahahahaha…iya sederhana banget. Karena jujur saya tidak terbisa membuat resolusi yang serius-serius. Kalau pun saya buat, itu biasanya seminggu sebelum ulang tahun dan biasanya hanya 1 atau 2 target. Karena saya lebih suka menyebutnya tema usia kesekian. Saya memilih satu kata atau merangkai satu kalimat untuk dijadikan jargon dalam menjalani pertambahan usia itu. Tidak pernah sampai detail, karena saya termasuk orang yang cinta dengan semangat let it flow.

Dan entah kenapa, saya ingin membuat sesuatu yang detail tahun ini walaupun hanya dua. Tapi saya percaya resolusi tidak berhenti dibuat di awal tahun. Pada perjalanannya saat kita dapat ide untuk mengejar sesuatu, kayanya sah-sah aja untuk menambahkan list itu. Walaupun kemudian ujung-ujungnya let it flow juga.

Tapi ya mendengar beberapa teman punya resolusi yang unik-unik dengan capaian yang besar. Saya tergoda juga tapi pas saya tanya diri saya, jawabannya, “Ah udahlah itu ngga begitu penting.” Buat saya resolusi bisa berenang dan menyelam di Wakatobi itu resolusi besar karena saya ini ternyata fobia air.

Jadi saya pernah diceburin atau dilelepin lebih tepatnya, oleh dua saudara laki-laki saya. Padahal kolam itu ngga dalam, hanya sedada saya. Artinya saya menapakkan kaki di dasar kolam pun tetap bisa membuat saya bernapas. Tapi ntah kenapa saya menangis sesenggukan dan saat keluar dari kolam saya gemetaran.

Saya shock, bukan karena hanya dilelepin tapi juga karena saya baru mengetahui ternyata saya sebegitu fobianya terhadap luapan air. Dan setiap kali saya menonton film atau berada di atas pesawat, kadang-kadang pikiran horor suka melintas. Pikiran horor itu adalah apa yang akan saya lakukan kalau saya terpaksa terjun dan mengapung di lautan bebas. Bulu kuduk saya langsung berdiri…damn saya ngga bisa berenang. Bahkan ketika saya membayangkan menggunakan pelampung di atas lautan, tetap saja saya menggelengkan kepala dengan kencang pertanda tidak mau mengalami pikiran horor itu.

Jadi ketika saya berani mendeklarasikan ingin belajar berenang bahkan menyelam di Wakatobi, itu MIMPI BESAR! Dan saya selalu tertantang dengan mimpi-mimpi besar. Saya sudah mengatur strategi untuk serius membayar seorang guru renang. Walaupun sebenarnya saya bisa aja minta tolong teman untuk mengajari saya. Tapi saya pikir ketika saya membayar maka saya akan merasa rugi ketika tidak mendapatkan apa-apa padahal sudah mengeluarkan uang. Atas itung-itungan ekonomi inilah saya membulatkan tekad untuk berenang :D

Kalau resolusi membaca 12 buku sepanjang 2010, lebih kepada memenuhi kerinduan diri untuk tenggelam dalam barisan kata. Mulai dari novel, cerpen, sampai teori-teori yang bikin dahi berkerut. Saya ingin mengembalikan semangat kuliah dulu yang selalu jatuh cinta dengan bau kertas-kertas yang menua. Kenapa ngga daftar kuliah aja?

Ya ini masalah klasik, saya ngga punya uang untuk bayar S-2. Dan entah kenapa lagi malas aja cari beasiswa. Proses “menjual muka” ke dosen atau seseorang untuk mendapatkan rekomendasi bikin saya males. Tapi saya percaya, saya tidak akan pernah menutup diri untuk menangkap kesempatan di depan mata. Artinya ketika saya melihat ada peluang besar, samber aja toh peluang adalah rejeki. Mubazir kalau disia-siakan :D

Saya jadi penasaran, apa ada resolusi yang lebih sederhana dari resolusi saya :D

Romantisme Etalase Metropolis

Sewaktu SMP, saya pernah bercita-cita untuk berkantor di daerah sudirman. Duduk di depan komputer yang berdindingkan kaca. Alasannya sangat sederhana, Sudirman adalah jalan protokol Jakarta yang dipadati kantor-kantor bagus.

Sudirman memiliki banyak gedung tinggi dengan design yang bermacam-macam. Kalau siang hari, terasa tegang melintasi daerah ini. Bukan hanya karena macet tapi juga gedung-gedung itu seperti menjejali mata tanpa permisi.

Sekarang, saya berkantor tidak jauh dari jalan protokol itu. Sedikit mendekati cita-cita. Saya duduk tepat di samping kaca yang bisa tembus ke arah kuningan, proklamasi dan sedikit sarinah. Dari lantai 14, saya memandangi gedung-gedung itu setiap kali butuh penyegaran setelah berjam-jam memandangi laptop.

Kalau pagi atau siang hari, pemandangannya kaku. Karena tembok tinggi yang angkuh itu seperti tidak bernyawa. Seperti lego yang disusun menjulang tanpa makna. Tapi kalau di malam hari, indah sekali. Arsitekturnya menjadi hidup karena lampu dari dalam kaca menawarkan kehidupan lain. Ditambah ketika lampu-lampu dari mobil yang merayap di jalan seolah-olah menghiasi bagian bawah gedung.

Saya bukannya senang dengan kemacetan tapi beberapa hari lalu saya jatuh cinta dengan gedung-gedung itu. Saat kendaraan yang saya tumpangi tidak jalan-jalan, saya coba menerka apa yang tengah dilakukan pekerja di dalam sana. Dan ketika kita menongakkan kepala untuk menangkap

Foto diambil dari Forum Skylines and Night pictures

Foto diambil dari Forum Skylines and Night pictures

keseluruhan bentuk gedung-gedung bertingkat itu, rasa seperti jatuh cinta pada keangkuhan. Saya membatin, ah buat apa jatuh cinta pada keangkuhan.

Tapi setiap gedung menampilkan auranya sendiri. Alhasil saya semakin larut mengamati gedung-gedung itu, seolah setiap kotak kaca yang menempel menggoda kita untuk memuji. Wah gedungnya bagus, warnanya menarik, atau bentuk helipad di puncak gedungnya sangat unit, itu adalah ekspresi yang terlontar di dalam kepala saya.

Hampir setiap malam, saya melamati gedung-gedung itu dan hampir setiap malam juga saya seperti menemukan hal baru dari gedung-gedung angkuh. Ya angkuh, karena inilah etalase metropolis ibukota. Menjulang, berjarak, dan menyilaukan mata. Tiba-tiba saya teringat cerita tentang menara Babel yang tidak berhasil dibangun karena konon Tuhan bilang, itu adalah proyek kesombongan manusia. Mungkin ini yang membuat saya mempersonifikasikan tembok-tembok beton berkaca itu sebagai etalase metropolis.

Yah saat ini, mata saya tengah terbuai dengan etalase ini. Selalu mencari-cari, gedung mana yang mau bercerita tentang kesombongannya. Sampai-sampai, ketika saya masuk kawasan yang tidak ada gedung bertingkatnya, saya membatin dalam hati, ah ngga seru…datar semuanya.

Apa ya kira-kira pendapat Tuhan melihat bagaimana setiap kota-kota besar berlomba-lomba punya gedung bertingkat? Apa Tuhan masih melihatnya sebagai neobabelinisasi (istilah maksa yang keluar tiba-tiba dalam kepala).

Atau sebenarnya saat menara babel dihancurkan, Tuhan lupa menghapus memori umatnya ketika itu. Sehingga cerita tentang tembok tinggi menjulang tetap diturunkan dari generasi ke generasi. Dan oleh insinyur arsitektur diartikan sebagai teknik membangun gedung bertingkat.Jangan-jangan menara babel tidak pernah ada. Tuhan membuat cerita itu untuk memancing orang membuat gedung bertingkat?

Yah apapun bentuknya, saya tengah jatuh cinta dengan tembok angkuh ini. Gedung bertingkat dengan rasa etalase metropolis.

Cantik Itu Konstruksi

Beberapa waktu lalu, saya menghadiri peluncuran buku yang dibuat oleh dokter bedah plastik. Undangannya sangat provokatif, menjadi pribadi yang menarik dengan operasi plastik. Sepertinya dokter sekarang kalau jualan udah ngga malu-malu.

Saya datang dengan rasa penasaran, provokasi seperti apa yang bakal dibikin sama dokter bedah plastik ini. Plus berharap dapat bukunya biar jelas dengan maksud dia melakukan provokasi itu. Sampai di sana, sang dokter bilang kalau orang yang berpenampilan menarik (baca : cantik) akan lebih percaya diri, punya karir bagus, dan punya banyak teman. Saya yang duduk di deretan depan bersama rekan kerja, terhenyak!

Trus dokter itu cerita lagi, pernyataan dia diperkuat oleh survei yang dilakukan di Amerika. Karena ternyata mereka yang mempercantik diri dengan membenahi struktur wajahnya lebih percaya diri untuk menancapkan eksistensinya di dunia. AH ABSURD nih…batin saya.

esthetic surgeryDalam talkshow peluncuran buku itu, dokternya cerita lagi kalau sebelum operasi dilakukan dia akan melakukan wawancara mendalam ke pasiennya. Untuk memastikan bahwa pasiennya punya alasan jelas melakukan pembenahan wajah itu. Plus mengantisipasi pasien punya salah satu kelainan psikologis yaitu tidak pernah menyukai diri sendiri (saya lupa istilahnya) kaya Michael Jackson gitu, berkali-kali operasi plastik.

Pertanyaan pun muncul, sampai mana batasannya dokter itu bisa menolak melakukan tindakan ketika menemukan hal itu pada pasiennya? Kalau dokter yang lain kan bisa bilang, seberapa besar tindakan yang dilakukan berpengaruh pada keselamatan jiwanya? Saya jadi penasaran, dengan kode etik dokter plastik, khususnya dokter plastik estetik. Namanya aja udah estetik ya dia hanya berpikir bagaimana membuat semuanya indah. Apalagi kalau diiming-imingin dengan jumlah uang, apa dia bener-bener bisa nolak? Akhirnya gua memutuskan, ah ini liputan ngga usah ditulis. Masa gua mau nyuruh pembaca gua untuk mengoperasi muka?

Ngga lama setelah liputan itu, salah satu media terbesar di Indonesia menulis tentang dia. Dia kembali mengucapkan hal yang sama, mereka yang berpenampilan menarik lebih baik dalam segala bidang malah dapat dibilang bisa mendapat banyak kemudahan dalam banyak hal. Dan wartawan dari media itu bertanya, “Berarti dokter mendapat banyak kemudahan dong, kan dokter menarik?” Dokternya tertawa sambil bilang tidak dan menjelaskan bahwa semua itu hasil kerja keras. Saya jadi teringat, di liputan itu juga ada wartawan yang bertanya, “Adakah bagian tubuh dokter yang dioperasi?” Sambil ketawa renyah dokter menjawab, “Tidak, dari ujung kepala sampai kaki saya masih orisinil.”

Dalam tulisan itu, dokter juga bercerita kalau ibu-ibu pejabat dari daerah seperti kalimantan dan papua mulai berbondong-bondong ke jakarta untuk operasi plastik. Bayangin aja, dia bisa melayani 70 pasien dalam satu bulan. Waks apakah makin banyak orang merasa tidak puas akan tampilan dirinya sendiri? Apakah identifikasi diri masyarakat kita sudah sangat tergantung pada visual?

Angka melek huruf kita makin naik memang tapi angka orang membeli buku di toko-toko buku tidak signifikan naik. Karena masyarakat kita lebih doyan nonton televisi, lebih praktis dan menarik. Sayangnya, kita jadi gampang dibodohi dengan persepsi visual itu. Konsep diri hanya dibatasi dengan apa yang menarik dari balik kotak ajaib berwarna-warni itu.  Dan sialnya, kotak ajaib itu membatasi diri dengan ratting. Maka kecantikan menjadi sangat komersil dan populer. Konstruksi absurd memang.

Ya cantik itu, idungnya mancung, kulitnya putih, matanya belo, dengan betis dan badan kaya lidi. Bahkan akan lebih spesifik lagi dengan garis senyum yang selalu ketarik atau alis mata yang selalu nungging tajam.  Apa ngga bosen ngeliat semua orang kehilangan keunikannya masing-masing, toh semua orang dilahirkan dengan ciri sendiri. Tuhan aja memberikan perbedaan pada kembar identik, trus kenapa manusia pengen sama satu dengan yang lainnya?

Saya Berlaku Adil

Sebelum

Sebelum

Hari ini, 7 Juli 2009, Indonesia menggelar pemilihan presiden. Entah karena terlalu apatis atau memang tidak menemukan keterwakilan, saya menggagalkan hak suara saya secara sah. Saya lebih rela menggagalkannya sendiri ketimbang digunakan secara percaya diri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Saya memilih karena keputusan untuk tidak memilih juga sebuah pilihan yang masuk akal dan sadar….

pilpres 2009b

Kampanye + Kematian = Status Agama

Seminggu ini ada dua berita yang sangat bersinggungan dengan agama. Pertama, King of Pop Michael Jackson meninggal dunia. Kedua, mengenai black campaig yang mengarah pada pasangan SBY-Boediono. Ini dua isu yang berbeda dan terjadi di dua belahan dunia yang bertolak belakang. Tapi orang Indonesia tetap punya cara untuk memetakan kedua isu tersebut menjadi berita hangat. Yaitu soal agama.

Iya agama. Agama emang selalu jadi barang “jualan” yang menarik di negara yang kompleks ini. Kematian Michael Jackson selain diangkat secara proporsional, juga dibicarakan secara berbisik-bisik. Berbisik-bisik yang saya maksud adalah, orang lebih seru ngomongin Michael Jackson yang meninggal sebagai seorang muslim.

Sedangkan untuk  isu yang kedua adalah, isteri Boediono yang beragama katolik. Konon katanya yang melakukan kampanye jelek ini adalah tim suksesi dari calon pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut akhir. Tapi tim suksesi yang dituduh tidak menerima, alhasil sekarang ada dua tim suksesi yang saling melapor ke polisi untuk ditindak sebagai pencemaran nama baik. Dan bukan lapor melapor yang bikin isu ini jadi hangat, tapi lebih kepada bagaimana mungkin partai islam yang tegas mendukung pasangan SBY-Boediono, tidak mencari tahu kalau isteri calon wakil presiden mereka katolik.

Buat saya, isu ini absurd. Dua-duanya edan. Emang kalau Michael Jackson jadi muslim kenapa? Itu kan pilihan dia. Apa dengan begitu, berita kematian Michael Jackson dapat lebih layak untuk diamini sebagai berita hangat? Saya sih karena sangat merasa, Michael Jackson sebagai penanda era saya ya saya ikut bersimpatik aja dengan kepergian dia. Saya ingat betul, bagaimana saya, abang saya, dan adik saya dapat menikmati lagu-lagunya dengan khusuk di kamar kami yang kecil dengan radio yang sember.

Trus kalau isterinya Boediono ternyata beragama katolik emang kenapa? Apa itu membuat Boediono tidak memiliki kapabilitas untuk menjadi seorang wakil presiden? Apa itu akan mempengaruhi kemampuan menganalisa Boediono. Well saya sih bukan tim suksesi siapapun. Saya bahkan sudah sangat apatis dengan perhelatan politik ini, semuanya ngobral janji yang ngga jelas. Jadi kesenewenan saya terhadap isu ini adalah karena saya sangat teramat gerah dengan penggunaan agama sebagai cara untuk memenangkan simpati orang.

Iya, simpati orang untuk mendoakan agar Jacko benar-benar mendapat jalan surga yang lurus. Atau simpati agar orang memilih yang satu keluarga berjilbab. Aneh….benar-benar silogisme yang aneh. Kaya dulu saat nabi-nabi memberitakan kabar sukacita mengenai agamanya masing-masing, mereka tidak pernah berpikir bahwa agama adalah komoditas yang mendapat keuntungan. Atau jangan-jangan selubung membuat orang kembali pada jalan yang benar, sebenarnya adalah bahasa marketingnya agama?

Kalau emang agama benar-benar mau dijadiin alat jual beli, mending ditegaskan dari awal seperti itu. Ketimbang kita diam-diam merubah filosofi kedamaian hidup dan keabadian jiwa sebagai sesuatu untuk menarik simpatik banyak orang. Kalau memang mau dibikin sebagai barang jualan, saya bersedia jadi humasnya…setidaknya yang atheis bisa merasa ada untungnya untuk memeluk satu agama…wakakakakaka…

Kemarahan Klasik, Perbedaan!!!

Saya sedang marah…dan bosen sebenarnya dengan penyebab kemarahan ini….pembedaan…ah cerita klasik…saya harus cari cara untuk berhenti dari rasa amarah ini….

Perbedaan yang disebabkan oleh kebiasaan kebudayaan yang patriakri….masalah usang yang bikin muak!!!!

Kecemburuan Perempuan

Sebenarnya apa yang akan saya tulis ini, adalah masalah klasik. Tapi saking klasiknya, permasalahannya tidak pernah menemukan solusi yang ajeg.  Well, saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg yang membuat gerah hati saking keselnya.

Di era penerbangan murah seperti sekarang, mengunjungi satu daerah atau negara adalah kesenangan. Kadang kala, kesenangan itu hanya ingin dinikmati dengan orang terkasih. Maka tidak heran jika sepasang kekasih memutuskan untuk menikmati suasana kota yang benar-benar berbeda dari apa yang biasa mereka hadapi. Tapi ada satu hal yang mengganjal sebenarnya.

Dari riset kecil-kecilan yang saya lakukan, ada perbedaan kebebasan antara anak perempuan dengan anak laki-laki. Kata anak saya gunakan untuk menggambarkan perbedaan ini datang dari persepsi orang tua yang bermuara pada ‘apa kata orang nanti’. Beberapa teman perempuan saya bercerita, mereka tidak berani bilang ke orang tua jika bepergian keluar kota bersama kekasih. Orang tua pasti mencap dengan berbagai pikiran negatif. “Perempuan itu harus jaga diri, jangan menjebak diri sendiri.” Sedangkan pada teman laki-laki, mereka seperti tidak perlu dicap macam-macam kalau ketahuan pergi keluar kota bersama kekasihnya. “Hati-hati, kalau sudah sampai tujuan, beri kabar.”

Saya semakin melakukan pengkajian. Rintangan tidak berarti juga dialami laki-laki ketika mereka memberi tahu akan keluar kota bersama teman-temannya. Ya naik gunung lah, ya diving lah, ya apapun itu, mereka selalu dapat keleluasaan lebih. Beda tentunya dengan anak perempuan, bila memutuskan berlibur ke luar kota bersama teman-temannya.

“Siapa aja teman-temannya?” Pertanyaan ini untuk menyakinkan orang tua, apakah anak perempuan mereka pergi dengan orang yang benar. Dan sudah dapat dipastikan definisi dari kata benar, akan mengarah pada anak-anak yang tingkah lakunya aman alias ngga neko-neko. “Tinggal di mana nanti? Berapa lama perginya? Ada temen cowonya?” Pertanyaan-pertanyaan ini untuk mengamankan persepsi orang tua, bahwa tidak apa-apa melepaskan anak perempuannya bersenang-senang bersama teman-temannya di luar kota. Lalu pertanyaan mengenai ada teman cowonya, untuk menyakinkan orang tua bahwa teman cowo itu sekedar teman tidak ada embel-embel merajut asmara.

Intinya mah benar-benar ingin melindungi perempuan. Meskipun pelindungan yang dimaksud lebih kepada bagaimana menjaga perempuan tetap pada jalur tuntutan sosial. Kalau perempuan melakukan kesalahan sedikit saja, akan berdampak pada nama keluarga besar. Maka anak perempuan harus selalu dijaga, bermain dengan siapa, melakukan apa, dan bersenang-senang dengan apa.

Sedangkan anak laki-laki selalu dapat kesempatan untuk dimaklumi. Lihat saja kalau ada sepasang kekasih yang menikah karena hamil duluan yang dipersalahkan lebih dalam adalah perempuannya. Tidak bisa jaga dirilah, bukan perempuan baik-baiklah, dan banyak lagi yang seolah-olah menempatkan keutuhan keluarga dan kestabilan sosial pada kelamin perempuan.

Yang laki-laki perlu lakukan hanya bertanggung jawab dan menikahi perempuan itu. Biasanya keluarga laki-laki akan punya power lebih karena mereka sadar keluarga perempuan akan tunduk, selama anak perempuannya dinikahi.  Lagi-lagi, kenikmatan bersama harus menjadi tanggung jawab dan buah pala yang ditelan bulat-bulat oleh perempuan.

Maka ketika ada teman perempuan yang terdengar pergi berlibur bersama kekasihnya, pertanyaan yang paling banyak menghampirinya adalah “Lo bilang apa sama orang rumah?”. Sedangkan ketika ada teman laki-laki yang bepergian bersama kekasihnya keluar kota, pertanyaan yang ada hanya “Berapa lama di sana?”. Bahkan teman saya yang laki-laki itu berujar, keluarganya (baca : orang tua) seperti tidak mempermasalahkan dimana dia akan tidur. Walaupun kedua orang tua menyadari, tidak ada keluarga yang dapat ditumpangi di kota yang menjadi tujuan Sang anak dan kekasihnya itu. Orang tua seolah-olah takut bertanya bahkan, takut anak tersinggung karena orang tua percaya anak laki-laki lebih bisa menjaga diri.  Kondisi ini sudah pasti melegakan bagi teman saya itu, “Gua kaga perlu merekayasa cerita,” ucapnya sumringah.

Saya cemburu, kenapa laki-laki selalu punya peluang lebih untuk menjadi binal tapi kata binal tidak pernah melekat pada identitas kelaki-lakiannya. Saya cemburu karena laki-laki selalu direstui oleh sistem sosial untuk melakukan apa saja karena yang harus bertanggung jawab bukan nafsu mereka tapi kebertahanan perempuan yang lemah.

Saya ingin laki-laki juga dituntut untuk menjaga keperjakaannya. Harusnya Tuhan beri selaput pada ujung kelamin laki-laki, jadi selalu ada membran sosial untuk mengkungkungnya dalam nafas kesucian. I’m so angry to realise that this social cronic disease still exist even they say that we are in millinium era…

Indonesia Raya

Beberapa hari lalu, saya dan pacar saya menyanyikan lagu Indonesia Raya di depan teman-teman dari India dan Filipina. Temanya, kita menyanyikan lagi kebangsaan masing-masing. Lucu juga sih, secara udah lama tidak menyanyikan lagu itu. Maklum, lagu Indonesia Raya rasanya hanya wajib dinyanyikan ketika masih duduk dibangku sekolah.

Setelah kami selesai bernyanyi, giliran teman-teman yang lain menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing. Ternyata ada banyak hal unik yang terjadi ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan ini.

Sewaktu saya dan pacar saya bernyanyi dengan sikap santai alias hanya duduk tanpa harus berdiri, salah satu teman dari India bertanya, “Kalian ngga harus berdiri ya nyanyinya?” Trus saya dan pacar saya liat-liatan, apa kita punya aturan untuk nyanyiin lagu kebangsaan ya. “Oh ngga, ngga harus,” ucap pacar saya setengah tersenyum.

Sambil bermain gitar, saya dan pacar saya menyanyikan lagu yang diciptakan Wage Rudolf Supratman itu. Ada beberapa bait yang kami lupa dan kami cuman senyum-senyum aja, ketika nyanyinya ngga komplit. Tapi buat temen-temen yang khusyuk dengerinnya, mereka seperti mendengar lagu bagus. Bahkan salah satu dari mereka melemparkan kekagumannya ketika kita bernyanyi dengan suara pelan. “Wow is a good antheme.”

Setelah selesai mereka tepuk tangan dengan riang gembira. Bukan karena dikasih tepuk tangan makanya saya posting di sini, tapi komentar mereka selesai mendengar Indonesia Raya yang menarik perhatian saya. Teman dari Pakistan berkomentar, “Wow…lagunya bagus sekali. Musikalitasnya bagus. Sangat stabil, tidak seperti negaranya yang tidak stabil.” Tentunya aja komentar ini membuat kita semua tertawa. Tapi yang dari India tidak jauh beda komentarnya. “Iya bener lagunya tenang sekali, tidak seperti lagu kebangsaan lain. Lagunya tenang.”

Tiba giliran mereka menyanyikan lagu kebangsaanya masing-masing. Diawali teman yang dari Filipina, posisi menyanyinya berdiri sambil meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Posisi penghormatan tertinggi. Teman itu bahkan bercerita, kalau di Filipina, mereka harus bernyanyi sambil menatap bendera dalam-dalam.

Hal yang sama juga dilakukan teman-teman dari India. Posisi berdiri tapi tanpa harus meletakkan tangan di dada kiri. Dan mereka menyanyikan dengan penghayatan penuh. Saya melihat mereka berkali-kali memejamkan mata seolah menikmati setiap baitnya. Lagunya indah, seperti orang bercerita. Dan memang itu isinya, kata mereka lagunya mengisahkan setiap provinsi yang ada di India.

Setelah berpisah dengan teman-teman beda bangsa yang ramah-ramah itu, saya dan pacar saya berdiskusi. Kenapa kita tidak punya kebiasaan untuk bernyanyi sambil berdiri ya. Atau menampilkan bahasa tubuh yang formil seperti mereka. Dan dalam hati saya berbisik, apa nasionalisme kita memang tidak sekuat yang kita bayangkan ya. Ternyata menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap upacara bendera, tidak cukup ampuh untuk menumbuhkan patriotisme yang coba ditularkan dari lagu tersebut.

Atau karena kita sekedar menyanyikan sambil menahan panas di bawah topi sekolah, kita kurang memaknai syair dan musiknya lamat-lamat. Dalam hati, saya mengulangi lagu Indonesia Raya. “Ternyata melodinya enak ya sayang,” ucap saya kepada pacar saya. Ya, WR Supratman memang seorang pencipta lagu dan komponis yang hebat. Melodinya sempurna, tidak terdengar seperti mars tentara tapi tidak terdengar seperti lagu pilu juga. Komposisi lambat dan cepatnya pas dengan lirik yang dipilih.

Saya kemudian membayangkan kalau lagu itu dimainkan dengan biola, lembut sekali pastinya. Syair yang dipilih juga tidak terlalu ribet tapi bukan berarti sederhana. Semangat mengembalikan martabat bangsa dan memajukan masyarakat sangat kental terasa. Tapi apa yang dikatakan teman dari Pakistan juga sangat masuk akal, pada kondisi riilnya, negara kita tidak sesempurna lagunya.

Korupsi, ya korupsi yang menggerogoti semangat dan esensi dari kebangsaan itu. Dimana ada sekelompok orang yang merasa tidak perlu berdosa karena telah menyatut hak orang lain. Betapa kepedulian terhadap nasib bangsa hanya dijual selama masa kampanye untuk sekedar duduk di kursi parlemen dan melakukan korupsi.

Ah Indonesia…Indonesia…harus jadi raya tanpa anggota legislatif dan pemimpin yang busuk dan korupsi. Merdeka…Merdeka…hiduplah Indonesia raya.

Egoisme Suku

Dalam satu perbincangan dengan salah satu mantan kecengan saya, kita berbicara mengenai kesukuan.  Mantan kecengan saya itu, aslinya Jawa tapi dia mengikrarkan dirinya sebagai orang Indonesia saja. Status kesukuannya hanya kebetulan saja, sama kebetulannya dengan dia menjadi orang Indonesia.

Awalnya saya ngga terlalu mengubris pernyataan dia, sampai satu waktu tempat saya bekerja mengadakan outbond bertemakan militer. Aneh deh, masa kita yang udah tua-tua (baca dewasa) dikondisikan seperti mengikuti ospek resimen mahasiswa. Well dalam acara outbond yang aneh itu, salah satu fasilitator yang berpangkat memanggil salah satu teman saya. “Kamu sukunya apa?” tanya si pemberi materi yang bertemakan persatuan. Teman saya menjawab, “Batak, Pa.”

Setelah itu, teman saya diminta untuk mendefinisikan bhineka tunggal ika dari persepsinya sebagai orang Batak. Tiba-tiba saja, saya mengernyitkan dahi.  “Mengapa harus dari persepsi sebagai orang batak untuk mendefinisikan bhineka tunggal Ika,” bisik saya ke teman sebelah saya. Saat itu juga saya teringat dengan perbincangan bersama manta kecengan itu, “Gua orang Indonesia bukan Jawa atau apapun juga. Orang Indonesia sudah menjadi identitas yang cukup.”

Sang fasilitator berseragam loreng-loreng itu ngga berhenti sampai disana. Belakangan dia memberi alasan mengapa harus dari perspektif sebagai orang Batak. Menurutnya, rasa bangga menjadi suku tertentu membuat seseorang dapat menghargai bhineka tungga ika. “Analogi yang aneh,” saya kembali berbisik ke teman saya. Teman saya yang sebal dengan konsep acara outbound tidak menimpali saya, cukup mendengarkan sambil berhayal.

Usai acara itu, saya diminta untuk mewawancarai beberapa seniman untuk halaman oase budaya. Temanya mengenai falsafah hidup orang Madura. Salah satu narasumber saya, seniman Sujiwo Tejo.  Selepas bertanya mengenai ke-Madura-annya. Saya melemparkan pertanyaan, diskusi via telepon lebih tepatnya.

“Mas, kenapa sih kita kalau mau berbicara mengenai bhineka tunggal ika, titik awalnya selalu dari kesukuan kita? Kenapa bukan dari kebhinekaan itu sendiri baru mengarah kepada kesukuan kita?” Seniman serba bisa itu, sedikit bingung mendengar pertanyaan saya dan meminta saya untuk memberikan penjelasan. “Iya, kita kalau mau ngomongin soal berbeda-beda tetapi tetap satu. Pasti awalnya adalah membicarakan apa yang menjadi identitas kesukuan kita dan ini seringnya hanya membicarakan kelebihan masing-masing. Sehingga merasa entitas kesukuannya sajalah yang membentuk kesatuan dalam keberagaman.”

Disadari atau tidak, kita jarang sekali mendefinisikan bhineka tunggal ika sebagai identitas tunggal orang Indonesia. Seolah-olah takut kehilangan jati diri sebagai orang batak, jawa, sunda, madura, dan suku lainnya. Padahal, menurut saya, kalau kita bicara dari keberagaman definisi bhinekanya bisa lebih meluas. Ibarat, melempar batu dalam air akan membentuk siklus yang keluar. Siklus yang keluar ini, membuat kita memosisikan semua suku sebagai entitas penting pembentuk kebhinekaan karena sentral perhatiannya adalah bhineka tungga ika itu sendiri.

“Wah saya tidak tahu mengapa begitu, tapi menarik juga untuk berpikir demikian,” Sujiwo meresponi pernyataan saya yang jelimet. “Tapi menurut saya, wajar saja kalau kita berangkat dari kesukuan kita. Karena selama ini memang itu yang selalu ditekankan. Betapa orang batak, idetik dengan kekerasannya dan orang Madura dengan kegigihannya.” Sujiwo juga memberikan contoh, ketika berbicara mengenai perbaikan sistem sosial. Dirinya yang pernah sekolah di teknik lingkungan ITB, akan mencari jawaban berbasis pada pengetahuannya di ranah teknik lingkungan karena itu sudah menjadi identitasnya.

Tapi saya katakan, “Kalau kita terlalu menganggap suku kita lebih dari yang lain maka definisi persatuan dan kesatuan menjadi sempit. Ya suku saya harus jadi superior. Harus menjadi sentral dari pusaran air.” Dan Sujiwo pun mengamini, betapa definisi persatuan dan kesatuan pun sudah masuk dalam pemetaan pemikiran yang seragam. “Pelan-pelan kita dibius untuk jadi etnosentris,” seloroh saya.

Maka jangan heran, jika kita mudah sekali untuk diadu domba. Kita terlalu dibuai dengan kekuatan suku masing-masing dan menanam kuat-kuat steriotipe suku lain. Egoisme kesukuan kita, dibangun terlalu kuat melebihi kenikmatan kita terhadap Bhineka Tunggal Ika.

Dan kini, saya tengah mengubah perspektif saya. Saya ingin disebut sebagai orang Indonesia saja yang kebetulan lahir sebagai orang Batak. Saya tidak ingin membuat egoisme kesukuan terus diestafetkan, karena suku saya hanya sebagian kecil dari pembentuk keberagaman Indonesia.

Apasih Agama Itu?

Semalam (29/1), salah satu sahabat saya menelepon dengan tema curhat. Lama juga saya tidak mendengar cerita dari dia. Bahkan janji dia untuk menelepon saya batal berkali-kali. Tapi entah kenapa saya penasaran terus dengan kabarnya, alhasil saya kirimi dia sms standar. Sms standar adalah sms dengan misi menyindir dia untuk memenuhi janjinya, menelepon saya.”Eh apa kabar lo?” begitu saya menulis sesindir-sindirnya. Ini bahasa Indonesia yang salah :) Sms saya dibales, “Gua pengen curhat sama lo, tapi besok ya pake nomer simpati gua.” “Ah cerita lama,” gumam saya dalam hati, maklum batalnya dia menelepon saya berkali-kali ya dengan pernyataan itu tadi. Akhirnya saya cuekin, sampai kemudian dia menelpon saya. Saya hanya tertawa mengangkat teleponnya. Dia sadar, saya menyindirnya dan kami pun mulai bercerita. Ada dua hal besar yang saya ketahui menyangkut “dunia” terbarunya saat ini. Pertama, dia sudah punya pacar baru. Kedua, pacar barunya muslim.

Hahahaha…dia mau “konsultasi” sama saya karena saat ini kami berada dalam gelombang yang sama. Sahabat saya ini, tengah mencari tahu bagaimana proses dan aturan pernikahan beda agama di Indonesia. Saya bilang, di Indonesia mahal, baik Paramadina maupun Wahid Institute, saran saya nikah di luar negeri saja. Mahal, tapi sekalian bulan madu :D Saya bilang, di Indonesia yang mahal administrasi dan doa prihatin dari banyak orang karena diasumsikan anak-anak dari pernikahan beda agama akan kacau balau dalam berkeyakinan.

Keyakinan atau bahasa awam Indonesianya, agama adalah barang sakral di negara Pancasila ini. Sewaktu saya SMA, saya pernah ditunjuk sebagai pengatur jadwal persekutuan sekolah. Malah kalau orang yang saya “tunjuk” memimpin persekutuan tidak hadir atau kabur, saya harus siap sedia menggantikannya. Tapi ketika itu juga, saya menganggap aneh guru agama saya yang bilang bahwa “Terang dan gelap tidak dapat bersatu.” Ini ayat terfavorit yang digunakan kepada mereka yang ingin menikah beda agama. Padahal ketika itu, saya tidak punya pacar. Jadi boro-boro mikir nikah beda agama. Guru agama saya memperkenalkan ayat itu karena kurikulum pendidikan agama Kristen mempersepsikan, anak-anak SMA tengah dimabuk cinta. Jadi sebelum terlalu mabuk ya dibekali dengan ayat yang fundamental.

Saya sampai berkali-kali membaca ayat itu,apasih maksudnya? Siapa yang terang dan siapa yang gelap? Latar belakang apa yang membuat ayat itu muncul? Pertanyaan-pertanyaan ini, saya bawa sampai saya kuliah dan bertemu dengan kata pluralisme. Nyawa pluralisme adalah memberi keindahan pada keberagaman. Jadi tidak ada tuh gelap dan terang, semuanya indah. Pertanyaan-pertanyaan awal mengenai ayat gelap dan terang tidak dapat bersatu pun hilang dari kepala saya. Karena saya mulai tenggelam dengan teologi pembebasan yang memanas-manasi agama untuk menyelamatkan umat dari kemiskinan. Bahwa agama bukan menara gading yang harus dilayani dengan kepasrahan.

Dan tanpa direncanakan, saya bertemu kembali dengan guru agama SMA saya. Dia kembali berbicara mengenai ayat itu, lagi-lagi saat itu saya belum punya pacar jadi misinya menyiapkan rambu peringatan buat saya dan teman saya. Saya pun membantah, “Yang gelap itu maksudnya siapa ya Bu?” Guru saya yang baik itu menjawab, “Orang-orang yang tidak percaya Yesus sebagai Juruslamat dan Tuhan.” “Tapi kenapa kalau Kristen dan Katolik nikah, bilangnya juga beda agama?Atau Advent dan Kristen nikah, tetap dibilang beda agama? Siapa yang gelap siapa yang terang ya?” saya mengobral rasa ingin tahu saya. Ibu guru saya terdiam dan mulai mengalihkan pertanyaan. “Emang pacarmu beda agama?” Saya bilang ke guru saya, saya belum punya pacar jadi belum tahu apa dia masuk kategori terang atau gelap.

Ah agama, lama-lama saya pikir itu cuman alat manusia saja biar terlihat beradab dan berprikemanusiaan. Karena animisme dan dinamisme masuk dalam mazhab peradaban kuno, jadi kalau mau lebih beradab (baca : modern) ya beragama Abrahamik-lah (salah ngga nih istilah). Sebab, agama-agama ini datang belakangan yang perkembangannya hampir berbarengan dengan lahirnya pikiran-pikiran filsafat yang mengkritisi agama.

Kalau dari bahasa Sangsekerta, a artinya tidak sedangkan gama bermakna kacau. Yang secara gamblang diartikan, ajaran yang melindungi manusia dari kekacauan. Agama menjadi aturan yang dibumbui legalitas Sang Pencipta. Tapi bumbu legalitas Sang Pencipta ini adalah hasil persepsi manusia yang sangat melar untuk ditarik ke sana-sini. Alhasil, perangkat yang dibuat untuk melindungi manusia dari kekacauan justru menjadi penyebab kekacauan.

Belakangan saya hanya percaya Tuhan itu ada, mau bagaimana pun cara memanggilnya tidak penting. Saya jadi tidak peduli dengan mana yang terang dan gelap, karena yang mendikotomikan keduanya adalah mahluk primata tertinggi yaitu manusia. Alhasil, saya percaya hanya ada surga, tidak ada neraka. Terlalu menyeramkan konsep penghakiman dengan dibakar habis-habisan. Tuhan kan bukan Hamurabbi yang gigi dibayar gigi.

Lalu bagaimana yang salah mendapat ganjaran atas kesalahannya? Hati nurani, menurut saya itu bahasa pertama Tuhan. Dan sakin liberalnya Tuhan, hati nurani yang kerap diabaikan, buat saya ada adalah kejahatan manusia atas eksistensinya. Artinya, ganjaran atas mengabaikan hati nurani ya dirasakan saat itu juga tidak perlu nunggu meninggal. Ganjarannya, ya tidak eksis sebagai manusia yang berakal budi memilih yang benar atau yang salah.

Dan saya dua kali menyakinkan teman saya yang mulai berpacaran beda agama untuk nikah di luar negeri saja. Karena di Indonesia, agama jadi jalan untuk mencari income. Buktinya, nikah beda agama jadi komoditas baru sebab makin hari pasarnya makin besar. Paramadina aja mem-barcode-kan harga Rp 8 juta untuk mereka yang mau nikah beda agama. Katanya Wahid Institute lebih murah, tapi tetap aja buat saya ini komersialisasi pluralisme agama. Dua insitusi itu mengklaim sebagai lembaga intelektual dan lagi-lagi rasionalisasi para intelektual juga mentok-mentoknya di uang.

Jadi, masih mau percaya sama buah pemikiran orang yang dirangkum dalam agama? Saya sih…..

« Older entries